Macet, polusi, bising,
panas, udara kotor itu teman yang menemani semua aktivitas aku, hidup di kota
metropolitan ada suka dan dukanya, hidup di kota metropolitan harus siap
bergerak tidak boleh lengah walaupun sedetik, hidup di kota metropolitan
walaupun ramai penuh dengan hingar binger tapi aku merasa sendiri, sepi di
tengah-tengah lautan manusia, bisu di tengah-tengah gemuruh manusia, tertekan
di tengah-tengah kebebasan. Aku penat dan bosan dengan semua kehidupan di kota,
aku butuh tempat nyaman untuk bisa sedikit menjernihkan pikiran, aku butuh
tempat untuk bersandar sejenak, butuh tempat untuk istirahat memejamkan mata
walaupun Cuma satu detik.
Semburat matahari pagi menegurku untuk cepat bergerak
memulai rutinitas yang melelahkan, setiap hari aku di atur waktu, di perbudak
waktu, padahal sebenarnya kita sendiri yang mengatur waktu bukan sebaliknya.
Jam 06.00 aku sudah bangun tidur, mandi, beres-beres berkas pekerjaan yang aku
bawa pulang, sarapan lalu jam 07.00 pergi ke kantor di temani sedan mewah dari
hasil keringatku sendiri.
Dari segi financial aku sudah merasa cukup segalanya,
makan sudah pantas, rumah milik sendiri, kendaraan milik sendiri, urusan
mengurus rumah sudah ada yang ngurus, pekerjaan sudah mapan, gaya hidup
cenderung mewah. Tapi aku merasa masih ada sesuatu yang belum aku rasakan,
sesuatu yang membuatku merasa kurang, sesuatu yang belum menyempurnakan
hidupku. Aku mungkin terlalu tenggelam dalam dunia karirku, sejauh ini aku
mengukur ke bahagiaan hidup hanya dari satu sisi saja yaitu sisi materi,
memiliki karir yang cemerlang, penghasilan di atas rata-rata.
Aku baru tersadar klo itu semua belum mampu membuat aku
merasa bahagia sesungguhnya, aku butuh sandaran, aku butuh pendamping hidup,
aku butuh teman hidup yang akan terus bersamaku sampai ajal menjemputku nanti.
Teman hidup yang mampu melengkapi kebahagianku, teman hidup yang mampu
membawaku terbang jauh ke syurga nanti.
Taman kantor ku sering bercanda menyebutku dengan sebutan
“Perawan Tua” padahal usiaku saat ini 28 tahun, yang menurutku usia segitu
belum kategori tua. Mungkin mereka memanggilku dengan sebutan Perawan Tua
karena mereka tidak melihat tanda-tanda aku memiliki pacar atau tanda-tanda aku
menjalin hubungan dengan laki-laki.
David teman kantorku yang menurut aku dia sedang
mengejarku, buktinya David selalu berbaik hati kepadaku, perhatian kepadaku
tapi aku cuek kepadanya. Aku bukan tipikal perempuan yang dengan mudah akrab
dengan laki-laki, aku sangat sulit bisa berteman dengan laki-laki. Suatu siang
yang panas David mengajakku makan siang, ini ajakan makan siang David yang ke
mungkin ke 1000 kali, David laki-laki yang pantang menyerah mengajakku jalan,
salah satunya mengajak makan siang, walaupun sering aku menolak ajakannya tapi
David tidak pernah menyerah mengajakku lagi, siang itu karena aku menghargai
kegigihannya David maka aku menerima ajakan makan siangnya.
Aku dan David makan siang di sebuah restoran mewah yang
dekat dari kantor. “Akhirnya kamu mau juga makan siang dengan ku” tutur David
dengan senyum termanisnya. “Iya, aku mau makan siang dengan mu karena aku
kasihan kamu yang sering aku tolak ajakannya” papar aku, David hanya tersenyum
malu. “Ran, aku boleh tanya sesuatu gak?”. “boleh Vid, mau tanya soal apa?”.
“Gini Ran, kenapa kamu sangat dingin banget dengan laki-laki?, padahal kamu
cantik Ran bannyak laki-laki yang mencoba mendekatimu”, “Soal itu Vid, gini Vid
aku bukannya dingin sama laki-laki tapi aku tidak mau dekat dengan sembarang
laki-laki, aku punya kejadian yang membuatku trauma dengan laki-laki”, “Oh, itu
alasannya Ran, klo boleh tau kejadian apa yang membuatmu merasa trauma dengan
laki-laki?”, “Maaf Vid aku belum bisa bercerita soal kejadiannya”. Aku
menghabiskan makan siang dengan David setelah itu kami kembali ke kantor.
Saat makan siang itu David menjadi teman satu-satunya
laki-laki ku, kami sering makan bareng, jalan bareng, ngobrol bareng, David
orang yang nyambung di ajak ngobrol, humoris. Aku menganggap David sebagai
sahabat tidak kurang tidak lebih, tapi David mengganggap aku sebagai apa entahlah
itu urusan dia.
Pak Ian atasanku di kantor menugaskanku ke Yogyakarta
disana ada anak perusahaan tempat aku bekerja, pak Ian mempercayai 3 orang
untuk terjun ke anak perusahaan yang berada di Yogyakarta, 3 orang itu adalah
Aku, David, dan Ayu, besok kami bertiga berangkat ke Yogyakarta semua akomodasi
sudah di tanggung perusahaan, aku merasa sedikit bahagia karena aku akan
meninggalkan ibu kota untuk sesaat, mungkin aku akan meninggalkan macetnya
jalanan, polusi udara, bising, di Yogyakarta lingkungannya akan lebih nyaman
dari ibu kota, di Yogyakarta kami ber tiga menginap di Vila perusahaan, vila
itu begitu nyaman, pemandangan yang masih alami, udara yang bersih dan segar
vila itu menghadap ke sebuah perkampungan di Kulon Progo.
Minggu pertama kami bertiga belum aktif bekerja, jadi
kami sepakat untuk menghabiskan waktu berlibur jalan-jalan mengenal Yogyakarta,
mengenal lebih dekat kultur masyarakatnya, tempat pariwisatannya, hari itu kami
bertiga pergi ke Malioboro, Malioboro salah satu titik keramaian di Yogyakarta,
kami bertiga belanja di Pasar Beringharjo yang terkenal murah-murah. Makan
gudeg, naik andong, melihat seniman jalanan memainkan alat musik angklung,
ngopi.
Salah satu tempat ngopi yang kami kunjungi kemarin
merupakan tempat paling istimewa, karena di tempat itu aku meraskan dennyut
nadiku terasa kencang, detak jantungku bergetar hebat, mataku tak tahan menatap
sesosok mahluk yang begitu sempurna. Wajahnya yang begitu tampan, senyum yang
manis dengan lesung pipi, postur tubuh yang gagah, ya dia adalah seorang
barista yang mampu meluluh lantakkan hatiku, barista yang mampu mencuri
sepotong hatiku. Aku merasakan jatuh cinta lagi setelah 8 tahun aku tidak
pernah merasakan jatuh cinta, kini hatiku mulai membuka pintu untuk seorang laki-laki
lagi setelah sekian lama terkunci akibat peristiwa itu.
Sore yang cerah aku memutuskan untuk pergi ngopi di kedai
kopi Malioboro, dengan harapan bisa kenalan dengan baristanya. Aku memesan 1
gelas kopi panas, dari tempat aku duduk aku memperhatikan barista itu membuat
kopi, tangannya yang lincah mampu memberikan sentuhan kopi yang nikmat. Suasana
lenggang aku memberanikan diri mendekati barista itu, “Hy, selamat sore, boleh
saya duduk disini?”, aku menawarkan diri duduk di kursi pas depan dia, “Boleh,
silakan”, “Boleh kenalan?”, aku canggung menawarkan perkenalan pertama “Boleh,
nama saya Rio”, “Oh, nama saya Rania Putri Pamungkas, panggil saja Rania”,
akhirnya aku mencoba akrab bersama Rio. Setelah perkenal awal aku dan Rio
berhubungan baik dan kami sering jalan bareng.
Kini aktivitas kantor sudah dimulai, aku sudah menyibukan
diri dengan berkas-berkas kantor, tapi aku selalu menyempatkan diri untuk bisa
ketemu Rio, seperti sore ini aku mengajak Rio jalan kebetulan Rio juga sudah
pulang kerja. Aku jalan bareng dengan Rio, kami duduk-duduk di taman Malioboro,
ngobrol akrab dengan Rio, bercerita apa saja, mulai dari kesibukan
masing-masing sampai cerita masa lalu, tak di sengaja aku menceritakan masa
lalu itu, masa lalu kelam aku dengan seorang laki-laki, masa lalu yang nyaris
membuatku gila, masa lalau yang sungguh menyakitkan, “Rio, masih maukah kamu
mendengarkan ceritaku lagi”, “Dengan senang hati Rania, aku siap mendengarkan
cerita kamu, laki-laki mana yang tidak mau mendengarkan cerita wanita cantik
seperti mu”, “Gombal banget kamu Rio. Rio aku mempunyai cerita kelam, cerita
itu terjadi 8 tahun yang lalu, saat usiaku menginjak 20 tahun, saat itu aku
pacaran dengan seorang laki-laki, aku sangat mencintai dia, aku memberikan
semua yang dia mau, suatu malam yang nista, dia mengajakku jalan, rupanya dia
mengajakku ke clubbing, dia mengajakku minum alcohol, karena aku mencintai dia
maka aku nurut saja, aku mabuk berat saat itu, lalu dia membawaku ke hotel, ya
di hotel itu dia merenggut keperawananku, dia menodai kesucian cintaku, dia
membunuh masa depanku, dia laki-laki brengsek, sejak malam itu aku trauma
menjalin hubungan dengan laki-laki’’. Mataku berkaca-kaca saat menceritakan
kejadian itu, Rio laki-laki pertama yang aku ceritakan cerita kelamku, David
yang lebih lama kenal denganku belum tahu cerita itu, entah kenapa Rio yang
baru ku kenal aku bisa menceritakan masa laluku. Rio hanya diam termenung
mendengarkan ceritaku, Rio membelai rambutku berusaha menguatkanku, kemudia Rio
memelukku akupun terjatuh di pelukannya.
Waktu berjalan dengan cepat, David tahu klo aku suka sama
Rio, walaupun aku merasakan David juga mencintaiku tapi David mendukung penuh
aku dengan Rio, mungkin bagi David Cinta itu tidak harus memiliki, membuat
orang yang di cintai bahagia sudah cukup bahagia itu prinsip David.
Aku pernah mengartikan cinta itu Abstrak tidak jelas,
Tapi David sahabatku memberi pencerahan bahwa Cinta itu Hitam Putih artinya
Cinta itu jelas. David memang sahabat terbaikku, aku juga mencintai David
sebagai seorang Sahabat sejati.
3 bulan aku mengenal Rio, kami sering menghabiskan akhir
pekan bersama, jalan bareng keliling Jogja, hingga saatnya saat yang aku
tunggu-tunggu. Rio menyatakan Cinta padaku di sebuah kursi taman di Malioboro,
Rio memberanikan diri mengungkapkan semua isi hatinya, aku terkejut campur
bahagia, wanita mana yang mampu menolak Cinta seorang Pria super tampan seperti
Rio, sebelum aku menjawab “Iya” tanda aku menerima cintanya, aku menyuruh Rio
menimbangkan terlebih dahulu, aku takut Rio menyesal menyatakan cinta padaku,
wanita yang sudah ternodai, mungkin Rio dengan kesempurnaannya tidak pantas
mendapatkanku. Rio sudah menimbang matang-matang putusannya untuk pacaran
denganku bahkan menikah denganku, maka di pagi yang sejuk aku menjawab cinta
Rio, “Rio, jujur aku juga sangat mencintaimu, aku jatuh cinta pada pandangan
pertama kepadamu, terimakasih Rio kamu sudah membuka hati buat wanita
sepertiku’’, “Rania, aku yang seharusnya berterimakasih kepadamu karena kamu
mau menerima cintaku”, “Rio, aku sangat berterimakasih pada Tuhan, karena masih
ada laki-laki yang mencintaiku apa adanya, laki-laki yang mau menerima masa
laluku’’, “Rania, kita hidup kedepan, kita hidup untuk masa depan, semua orang
punya masa lalu, baik itu masa lalu yang bahagia maupun masa lalu yang kelam,
Rania, masa lalu boleh kelam asalkan masa depan tetap cerah, aku mau menjadi kenangan
manis masa depanmu, aku mau kita bersama-sama mengukir masa depan yang indah’’.
Cinta itu suci datangnya, CINTA itu anugrah yang harus
kita syukuri, cinta tidak mengenal siapa kita di masa lampau, CINTA itu untuk
masa depan yang keberadaanya masih suci. Di cintai dan mencintai satu paket
kebahagian dalam CINTA.
Pesan untuk yang lagi pacaran. Anda harus mampu menerima
masa lalu pasangan anda, jangan pernah anda mengungkit masa lalunya yang kelam
karena itu secara tidak sengaja akan menyakiti perasaan pasangan anda. Cinta
itu melengkapi bukan menghakimi. Cinta itu soal ketulusan.