Langit nan indah dengan taburan
bintang yang menyala berkelip-kelip di tambah dengan rembulan yang bersinar
agung di tengah kerumunan bintang, aku begitu menyukai malam seperti ini, tidak
ada bosan-bosannya memandangi rembulan yg begitu indah membuat hati tenang dan
mampu menyingkirkan sejenak beban kehidupan.
Di usiaku yang menginjak dua puluh
lima tahun aku masih belum memiliki pendamping hidup, aku terlalu asik dengan
kehidupan karirku, walaupun aku tahu banyak laki-laki yang menginginkan aku
menjadi pacarnya namun entah kenapa belum ada laki-laki yang menarik di mata
dan hatiku. Di suatu malam aku tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang
tuaku yang membahas jodoh untuk ku, aku kira orang tuaku akan segera mencarikan
aku pendamping hidup.
“Nak, usiamu sudah menginjak 25
tahun, tapi kenapa mamah belum pernah melihat kamu pacaran?” entah ada angin
dari mana mamahku melontarkan pertanyaan itu. “Mah, aku belum mau menikah
cepat-cepat, aku masih ingin berkarir dulu mah”, jawabku dengan halus, “Nak,
karirmu sudah cemerlang kini sudah saatnya kamu menentukan siapa yang pantas
mendampingimu”, “Entahlah mah belum ada seorang laki-laki yang mampu
menggerakan hatiku”, “Papahmu punya kenalan, anak seorang rekan bisnisnya, dia
lulusan luar negeri dan karirnya sudah mapan, cocok menjadi pasangan hidupmu”,
“Mamahku sayang, ini bukan zaman siti nurbaya, nanti kalo sudah ada yang klik
di hati, aku janji akan segera mengenalkannya pada mamah dan papah”. Mamah
menutup obrolannya denganku.
Waktu menunjukan pukul 11.30 jam
istirahat kantor telah tiba seperti biasa aku dan ke dua sahabat kantorku ngopi
santai di sebuah cafee dekat kantor,
cafee dengan nuansa jawa dan sedikit modern menjadi cafee favorit kami ber
tiga. Sambil menunggu pesanan datang tiba-tiba Vio membuka obrolan tentang
cowo, “Arin, tahu gak aku sedang dekat dengan cowo super keren dari kantor
sebelah” celetuk Vio “Vio, kamu cepat banget move on dari cowo, barusan 1
minggu yang lalu kamu putus dari Dion, masa sekarang kamu sudah mau pacaran
lagi” tutur ku yang ogah banget bahas cowo. “Biasa lah Rin, si Vio kan sebelum
putus sudah punya draf cowo-cowo yang bakal di deketin” sambung Ian “Yehh,
apaan sih Ian, aku itu sebagai wanita harus bisa cepat-cepat move on dari yang
namanya mantan” balas Vio dan akhirnya Vio dan Ian berdebat argument tentang
Move On, aku hanya bisa mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Hari minggu merupakan hari yang
sangat aku tunggu-tunggu hari dimana aku bisa melepas sejenak kesibukan kantor,
minggu ini kami ber tiga aku, Vio dan Ian berencana nonton bareng kebutulan ada
film hero wonder women yang lagi ngehitz tayang, setelah nonton biasanya kami
nongki-nongki sambil menikmati kopi panas. Di sebuah kedai cantik nan romantis
mataku menatap sesosok laki-laki bertubuh tinggi, badan yang kekar serta wajah
yang tampan duduk sendirian di sebuah kursi di sudut kedai sambil sesekali
menyeruput kopinya. Aku sampai tidak sadar melihat senyumnya yang manis
sehingga aku ketawa sendiri dan akhirnya Vio dan Ian membuyarkan lamunan ku.
“Hy, lagi melihat apaan sih pakai senyum-senyum sendiri” tanya Ian dengan
ekspresi menggoda, “Pasti sedang jatuh cinta nih” sambung Vio, “Vio apaan sih,
aku gak ngerti maksudmu” “Wah kelamaan jomblo nih jadi gak ngerti jatuh cinta”
jawab Vio, “Benar tuh Vio kelamaan jomblo, bentar-bentar, sejak aku dan Vio
berteman sama kamu, kita jarang banget melihat kamu pergi sama cowo atau
melihat kamu pacaran” sambung Ian. Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan pipiku
merah padam. “Ian, aku tahu nih Arin sedang lihatin siapa” celetuk Vio sambil kedip
manjah ke arah cowo yang sedang aku lihatin “Ohh jadi dari tadi Arin lihatin
cowo di sudut sana, emmm lumayan cakep lah Vi” jawab Ian “Iya yan lumayan
cakep, pantes aja dari tadi Arin lihatin terus, apa jangan-jangan Arin jatuh
cinta pada pandangan pertama” Goda Vio kepadaku, jujur aku nambah malu nih,
“Gak pp Vi, lagian Arin kan jarang pacaran otomatis jarang merasakan jatuh
cinta” “Bener banget Ian, duhh aku sebagai sahabat bangga nih melihat sahabatku
jatuh cinta, udah jangan di lihatin terus mending kamu samperin saja” Vio
mendorongku suruh menyemperin cowok itu “apaan sih Vi, malu tau cewek nyamperin
duluan cowo” “halah udah biasa kali Rin”sambung Ian.
Rembulan kembali bersinar
memperlihatkan kegagahannya. Arin menatap rembulan dengan senyum-senyum
sendiri. “Tuhan, apakah ini yang namanya jatuh cinta?” tanpa di sadari Arin
bergumam sendirian. “Kalo ini yang namanya jatuh cinta, lantas apa ini juga
yang namanya cinta pada pandangan pertama”. Tanpa di sadari jam telah
menunjukan pukul 22.00, Arin masih terjaga. Jatuh cinta memang membuat orang
lupa dengan segalanya, membuat orang seperti gila, senyum sendiri, bergumam
sendiri.
“Selamat pagi mah” ucapan wajib
Arin ke mamahnya ketika berada di ruang makan. “Pagi juga sayang, sebelum ke
kantor sarapan dulu, mamah sudah siapkan nasi goreng kesukaan kamu” “Siap mamah
sayang” “Anak mamah kayaknya lagi bahagia banget nih, dari tadi senyum-senyum
sendiri” Arin ketahuan senyum-senyum sendiri. “Wahh apa jangan-jangan anak
Papah lagi jatuh cinta nih, senyumnya mirip sama Papah dulu waktu jatuh cinta
sama Mamah” goda Papah Arin. “Yehh, gak papah Arin gak lagi jatuh cinta” bantah
Arin “ “Jatuh cinta juga gak papa kan anak mamah sudah besar dan mapan, cepat
kenalin cowo yang membuat anak mamah jatuh cinta, kalo tidak cepat di kenalin
nanti mamah akan jodohkan sama anak kenalan papah” paparan Mamah Arin semakin
membuat Arin merasa tertindas. “Benar tuh kata mamah cepat kamu kenalin ke
mamah dan papah siapa cowo yang berhasil mencuri hatimu”. Gubrak mengenalin
cowo itu ke Mamah dan Papah, bagaimana caranya? Jangan kan mengenalin ke mamah
papah, kenal dan tau namanya aja belum.
Beberapa minggu kemudian setelah
aku lelah mencari dan membayangkan cowo itu.
Hari ini aku ada meeting bareng
klien, meeting yang tidak akan aku lupakan sepanjang hidup, meeting yang
berkesan. Di ruang meeting sudah kumpul beberapa orang tinggal menunggu Aku
saja yang kebetulan telat datang, ketika aku memasuki ruang meeting mata ku
menatap sesosok cowo yang berhasil membuatku senyum sendirian, sosok cowo yang
diam-diam mencuri sepotong hatiku. Meeting pun selesai. Vio dan Ian menggoda ku
agar jangan sampai terlewatkan kesempatan mengenal cowo itu, dengan malu-malu
aku mendekatkan diri ke cowo itu, mengajaknya basa-basi dan entah ada keajaiban
apa cowo itu mengajakku makan siang bareng. Jrenggg hatiku berasa melayang
ketika cowo itu mengajakku makan siang.
Makan siang pertama sukses, aku
jadi mengenali cowo itu yang ternyata namanya Fero Sebastian. Fero termasuk
orang yang asik di ajak ngobrol walaupun baru pertama kali ketemu, orang yang
humoris dan orang yang mampu membuatku merasa nyaman walaupun baru kenal. Hari
terus berganti kini aku semakin dekat dengan Fero, kita ber dua sering jalan
bareng, makan bareng. Dan tibalah saatnya momen yang aku tunggu-tunggu itu
datang. Fero mengajakku Dinners bareng di sebuah cafee nan romantis. Fero
memesan meja untuk dua orang, dengan hiasan lilin lilin dan bunga mawar, lampu
cafee di seting seromantis mungkin dan seseorang menggesekkan biolanya menambah
suasana romantis. “Arin walaupun aku belum lama mengenalmu, entah kenapa ada
rasa ingin memilikimu menghinggap di hatiku, senyum indah dari bibirmu terlukis
di langit-langit kamarku, wajahmu seperti abadi di ingatanku. Arin malam ini
aku ingin memilikimu selamanya, maukah kamu menjadi istriku dan menjadin ibu
dari anak-anaku nanti”. Aku menangis mendengarkan isi hati Fero, dia serius
dengan ku, dia mengatakan menjadi istriku bukan pacarku. Aku juga menginnginkan
Fero menjadi suamiku. “Fero, jujur sejak pertama kali aku melihatmu di kedai
kopi, ada rasa bahagia hinggap di hatiku, entah kamu percaya atau tidak, setiap
malam aku selalu melamuninmu, berharap besok bisa bertemu denganmu, aku juga
mencarimu, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu. Jadi aku mau
menikah denganmu”
“Cie-cie yang baru pacaran, setelah bebera tahun jomblo”,
goda Vio dan Ian. “Apaan sih, aku dan Fero tidak pacaran, kami berdua sepakat
akan langsung menikah” jawabku dengan senyum manis “Apa? Langsung menikah?” tanya
Vio dengan mata terbelalak “Sebegitu cintanya kamu pada Fero sehingga
memutuskan langsung menikah” sambung Ian “Iya dong, jangan kayak Vio pacaran
terus kapan nikahnya” goda Arin ke Vio.
Seperti biasa sebelum pergi ke
kantor Arin menyempatkan diri untuk sarapan bareng keluarga. “Mah, Pah aku
sudah punya calon suami, nanti akum au mengenalkannya pada mamah dan papah”
Arin malu-malu mengutarakan isi hatinya “Calon suami? Bukannya selama ini kamu
belum punya pacar?” tanya mamahnya dengan muka heran “Papah juga belum pernah melihatmu
jalan bareng cowo selain Ian teman kantormu” sambung Papah. “Nanti malam akan
Arin Kenalkan ke mamah dan papah, namanya Fero, sebenarnya aku dan Fero baru
kenal beberapa bulan, tapi kita berdua sudah merasa dekat dan nyaman. Mamah dan
Papah seringkan melihat Arin senyum-senyum sendiri nah cowo yang buat Arin
Senyum sendiri itu Fero. Udah mah pah Arin berangkat kerja dulu nanti di
sambung nanti malam sekalian ngobrol bareng orangnya”.
Ruang tamu jam menunjukkan pukul
19.00. aku, mamah dan papah sudah siap menunggu Fero datang, terdengar klakson
mobil dari luar itu pasti mobil Fero. Pintu terketuk, langsung saja aku membuka
pintu, sebelumnya aku sudah dandan secantik mungkin. Fero dan keluarganya
datang. Fero kelihatan lebih ganteng dengan setelan Jas trendy nan santai.
Setelah mereka masuk terjadilah obrolan hangat ke dua keluarga. Malam ini Fero
melamarku.
Waktu terus berjalan. 1 bulan
setelah proses lamaran kini tiba saatnya momen yang berharga dalam kehidupan ku
terjadi, momen dimana aku dan Fero mengikat janji suci kita lewat pernikahan.
Hari ini aku akan menikah. “Gak nyangka ya Arin yang jarang pacaran bahkan
tidak pernah pacaran saja menikahnya duluan. Nah sedangkan aku yang sering
pacaran gak nikah-nikah” Vio bergumam “Hehehe kamu pacaran nya gak serius Vi,
kamu masih main-main hanya untuk Fun saja” Jawab Ian. “Bener tuh kata Ian, klo
mau cepat menikah pacarannya yang serius dan cari pacar yang bisa berpikir
dewasa jangan pacarannya sama brondong alay” Nasihat Arin. “Udah-udah jangan
ada yang galau di hari pernikahanku. Semuanya harus bahagia” Arin menutup
obrolannya. Dan kini bersiap-siap ke pelaminan karena Fero sudah menunggu.
“Arin sayang sebelum aku mengucap
janji suci pernikahan izinkan aku mengucap janji kesetiaanku padamu. Arin kamu
harus tau ini, aku mencintaimu seperti tubuhku, seperti mata yang selalu
melihat, seperti telinga yang selalu mendengar, jantung yang selalu berdetak,
dan hati yang selalu berkata. Aku mencintaimu seperti tubuhku yang selalu setia
seperti jiwaku pada cintaku seperti cintaku pada kamu seperti hatiku yang
selalu untukmu Arin sayang”. Aku menangis mendengar kalimat tulus dari hati
Fero. “Fero sayang aku percaya itu. Aku juga akan setia kepadamu, dan kamu
harus tahu Fero sayang. Setiaku padamu seperti air yang akan terus mengalir
tidak akan berpaling tidak akan berubah sampai akhir. Fero jujur selama ini aku
belum pernah jatuh cinta dan belum pernah pacaran. Kamu adalah laki-laki
pertama dalam hidupku dan insyaallah laki-laki terakhir dalam hidupku juga”.
“Arin sayang aku juga jujur sebelum kenal kamu aku tidak pernah pacaran atau
menjalin hubungan sama wanita manapun dan kamu wanita pertama yang aku cintai”.
Akhirnya aku dan Fero resmi menikah dengan di dasari rasa Cinta dan janji
Kesetiaan.
Dan aku pun kini hidup bahagia
dengan suamiku tercinta.