Dalam
heningnya malam, memori otakku melayang mengingat sosok perempuan paruh baya
yang berhati emas berprilaku bagaikan malaikat, sosok perempuan yang ingin aku
bahagiakan di sisa hidupnya. Bunda banyak kata kata yang ingin aku sampaikan
pada bunda, tapi aku gak kuat menahan derasnya air mata saat aku
menyampaikannya. Bunda di sini di perantauan anakmu selalu membayangkan wajahmu
bunda, bahkan aku selalu ingat perjuangan bunda ketika keluarga kita tertimpa
musibah. Memori kelam. Aku sangat ingat ketika mau berangkat sekolah bunda gak
pegang uang sepeserpun, jangankan untuk uang saku sekolah untuk sarapan aja gak
bisa beli. Tapi bunda gak patah semangat untuk menyemangati anak-anaknya agar
bisa sekolah walaupun dengan keadaan perut lapar, bunda rela pagi-pagi
mendatangi rumah tetangga hanya untuk meminjam uang dan ketika bunda pulang ke
rumah dengan membawa uang dari hasil pinjaman bunda langsung sujud syukur
disitu hati aku seperti tersayat bunda, aku tidak bisa menahan air mata, tapi
aku tetap menjaga mata agar tidak menangis di depan bunda.
Bunda sosok yang selalu
mengajarkanku tentang kesabaran menjalani hidup ini. Bunda sebelum ekonomi
keluarga kita pulih aku sering menahan rasa lapar demi melihat bunda tidak
sedih, bunda di sekolah walaupun uang jajan dari bunda pas-pasan aku selalu
mennyisihkannya untuk membeli lauk sehabis pulang sekolah, bunda, walaupun kita
sering makan hanya pakai kecap dan kerupuk atau hanya pakai tumbukan kacang
tapi aku merasakan makanan itu sangat lezat, bunda, ketika makan aku kadang
menahan agar tidak nangis. Di saat makan dengan lauk yang pas-pasan bunda
sering berbicara “maafkan bunda nak, bunda gak bisa membuatmu bahagia, bunda
gak bisa memberikanmu makanan yang bergizi, makanan yang sehat, maafkan bunda
nak” bunda, sebenarnya aku gak kuat mendengar kata-kata bunda, aku ingin
menagis dan bilang “ini bukan salah bunda, ini bukan salah siapapun, aku
bersyukur masih bisa makan bunda, aku sangat menikmati makanan yang bunda
sajikan, aku sangat berterimakasih pada bunda” tapi bibirku kelu untuk
mengucapkan semua kata-kata itu. Bunda, kenangan dulu waktu lebaran dan
momennya kita gak punya banyak uang, dan bunda tidak bisa memberikan baju baru
untuk anak-anaknya lagi-lagi bunda minta maaf “maafkan bunda nak, bunda gak
bisa membelikanmu baju baru di hari raya ini, maafkan bunda karena bunda kamu
gak sama dengan teman-temanmu, di saat teman-temanmu mengenakan baju baru dan
kamu tidak” bunda lagi-lagi aku ingin berbicara “ini bukan salah bunda, ini
bukan salah siapapun, aku masih bisa kumpul bersama keluarga saja sudah
bahagia” tapi aku gak bisa mengucapkannya aku hanya bisa memeluk bunda dengan
erat saja.
Bunda, kenangan diatas sampai
sekarang masih membekas di hati aku. Terimakasih bunda telah mengajarkanku arti
sebuah perjuangan hidup, bunda telah mengajarkanku kesabaran dan ketabahan
dalam menjalani hidup. Bunda sampai kapanpun aku tidak tidak pernah melupakan
semua perjuangan bunda dalam membesarkanku dan mendidikku.
Bunda
terimakasih sudah menemani dan menghantarkanku sampai bangku kuliah, bunda
setelah lulus kuliah nanti aku sangat ingin membahagiakan bunda, aku ingin
mengajak bunda jalan-jalan keluar negeri.
Bunda, aku sayang banget sama bunda,
aku sangat ingin membahagiakan bunda, aku ingin membuat bunda bangga padaku,
bunda title SE aku nanti aku persembahkan untuk bunda. Bunda semoga Allah SWT
membalas semua amal kebaikan bunda, semoga bunda di beri umur panjang agar bisa
menikmati kesuksesanku, walaupun bunda sering bilang “nak, ketika kamu sukses
bunda tidak akan pernah minta apapun dari kamu” bunda ketika aku sukses
kesuksesan itu berkat bunda juga berkat perjuanagn bunda dan doa-doa bunda.
Bunda, aku sayang banget sama bunda,
rasa sayangku kepada bunda melebihi apapun, separuh semangatku bersumber dari
bunda. Pokoknya bunda adalah wanita terbaik yang Allah SWT kirim untukku. I
LOVE YOU BUNDA