DOKTER KEVIN VS GADIS
PENJUAL DONAT
Part 1
Terik
matahari membakar tubuhku kakiku seudah berat untuk melangkah, keringat
mengalir dari tubuhku bagaikan air terjun. Siang ini aku lelah banget aku ingin
cepat pulang untuk istirahat tapi jualan donatku masih numpuk banyak belum laku
semua. Kalo aku pulang aku hanya akan membawa uang yang cukup untuk membeli
makan aku, ibu dan adikku saja, sedangkan untuk membeli obat ibu belum ada.
Tuhan
aku mohon padamu bantulah hambamu ini, hamba mohon turunkanlah orang baik yang
mau membeli jualanku (doaku dalam batin). Sambil terus melangkahkan kaki,
tiba-tiba sebuah mobil Mazda 2 berwarna merah menyala berhenti tepat
disampingku. Pintu mobil terbuka sepatu vantopel berkilau keluar dan mendarat
di jalan, sesosok pria berpawakan tinggi, berwajah oriental dan berpenampilan
rapih itu menghampiriku yang masih menatapnya dengan tatapan terpesona, ya
Tuhan ini malaikat dari mana sempurna sekali (gerutuku dalam hati). Dengan
senyum ramah nan menawan pria itu menanyaiku “ hy, jualan kue apa?”. Emm ini
jualan donat (jawabku dengan nada grogi). “ boleh saya borong semua donatnya?”.
Aku buru-buru menjawab Boleh-boleh, aku segera membungkus semua donat jualanku
dan langsung aku kasih ke pria itu sambil bilang ini harganya 100 ribu. “oh,
terimakasih (sambil melayangkan uang 100 ribu)”. Akupun
mengambil uang itu dari tangannya tak disengaja aku menyentuh tangannya
yang halus sambil mengucap iya sama-sama terimakasih kembali, kemudian pria itu
tersenyum dan langsung kembali ke dalam mobilnya dan melesat meninggalkanku.
Tuhan
tidak pernah tidur, Tuhan selalu ada buat hamba-NYA yang membutuhkan
pertolonga-NYA. Sore ini aku pulang dengan senyum lebar, aku senang karena
jualanku laku semua dan aku senang karena telah bertemu malaikat. Aku bergegas
membeli 3 nasi bungkus setelah itu aku lanjut keapotek nuntuk mebeli obat
ibuku. Sudah dua tahun ibu sakit-sakitan dia hanya bisa berbaring lemah
ditempat tidurnya, sedangkan ayahku sudah meninggal sejak aku kecil sekarang
aku jadi tulang punggung keluarga.
Adikku
yang masih duduk di bangku SD sudah bisa membantu merawat ibu, adikku sadar
dengan keadaan keluarga. 1 tahun yang lalu aku lulus SMA, impianku untuk bisa
kuliah aku pendam diam-diam karena factor financial yang kurang mendukung.
Sejak
lulus dari sma aku sudah mencoba mencari kerja kemana-mana tapi hasilnya nihil.
Maklumlah Cuma modal ijazah sma saja. Dan akhirnya aku memutuskan untuk
berwirausaha berjualan donat.
Malam
telah tiba, aku mendengar isak tangis ibuku, aku sontak langsung kekamar ibu,
aku memandang ibu yang sedang menggigil hebat, mukanya pucat, tubuhnya demam.
Aku kasihan melihat ibu seperti itu, aku berusaha meminta tolong tetangga namun
tidak ada yang bisa membantu, adik kecilku menangis, aku berusaha tegar untuk
tidak menangis akan tetapi air mataku tak bisa kubendung.
Keesokan
harinya keadaan ibuku membaik, setelah menghantarkan adik ke sekolah aku
melanjutkan rutinitas pekerjaanku, aku mulai berjualan donat pukul 11.00 kakiku
siap melangkah mencari risky.
Di
tengah jalan aku melihat mobil mewah yang pernah aku temui beberapa waktu lalu.
Mobil itu terparkir diarea rumah sakit “HARAPAN KITA” seorang dokter muda
bergegas memasuki mobil itu ia masih mengenakan seragam dokternya, tanpa
sengaja dokter itu melihatku yang sedang menenteng jualanku, aku mengenali
wajah dokter itu, ia tidak salah lagi itu wajah yang beberapa waktu lalu
memborong daganganku. Mobil dokter itu keluar dari parkiran dan berhenti persis
di depanku berdiri, dokter itu keluar dari mobilnya dan langsung menujuku, “Hy,
kamu yang kemarin jualan di pinggirjalan itukan?”. Iya dok, dokter yang waktu
itu memborong daganganku kan?. “ iya benar “. Mau beli lagi dok? (tawarku).
“iya, saya mau borong lagi”. Ok dok, aku langsung membungkus semua daganganku,
klo boleh tahu dokter memborong semua daganganku buat siapa? “ini untuk
anak-anak asuh saya, jangan panggil dokter y panggil nama saja, nama saya Kevin
jadi panggil Kevin aja biar kelihatan akrab”. Ok dok, eh maaf maksudnya ok
Kevin.
Setelah
obrolan itu aku dan dokter Kevin makin akrab, suatu hari aku diajak dokter
Kevin mengunjungi sebuah panti asuhan yang duhuni belasan anak-anak Yatim Piatu
dan anak Jalanan. Dokter Kevin menceritakan semua tentang panti asuhan itu, aku
mencerna semua cerita dokter Kevin, sungguh luar biasa panti asuhan itu
ternyata dibangun sendiri oleh Dokter Kevin, sungguh dokter muda yang memiliki
hati mulia, dan sekarang aku jadi tahu kenapa dokter Kevin selalu memborong
daganganku yang ternyata buat dibagikan disini di panti asuhannya.
Sore
hari yang bersahabat saat jualanku sudah habis aku diajak jalan sama Dokter
Kevin, ternyata dokter Kevin tidak malu mengajakku jalan-jalan sore selain ke
panti. Disela-sela obrolan kami, aku bercerita tentang sakit yang diderita
ibuku.
Hari
minggu rencananya dokter Kevin akan main kerumahku, aku jadi senewen menyambut
kedatangannya, tok-tok-tok bunyi ketukan pintu, aku sudah tahu siapa yang
datang, segera membuka pintu dan mempersilakan dokter Kevin masuk.
Kami
ngobrol dengan asik, Dinda boleh saya lihat keadaan ibumu? Boleh Kev, mari aku
antar ke kamar ibu. Hy bu perkenalkan ini Kevin teman Dinda dia seorang dokter.
Dek Kevin (sapa ibu Dinda) terimakasih sudah mau berteman sama Dinda dan sudah
menyempatkan main kerumah kami, sebelumnya Dinda sudah pernah bercerita tentang
nak Kevin. Ibu kenapa gak dirawat di rumah sakit saja biar mendapatkan
pemeriksaan dan perawatan yang intensif (tanya Kevin). Di RS kan mahal nak
biayanya, ibu dan Dinda tidak punya simpanan uang lebih buat berobat ke RS. Gak
usah kawatir bu soal biaya nanti insya allah saya yang nanggung. Ibu Dinda
menangis mendengar ucapan Kevin, Terimakasih nak Kevin.
Setelah
1 minggu di rawat kini kesehatan ibu Dinda jauh lebih baik, dan Dindapun
sekarang makin dekat dengan dokter Kevin, disela-sela kesibukannya dokter Kevin
selalu berusaha menyempatkan diri bertemu Dinda atau membantu Dinda berjualan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar