Kamis, 17 November 2016

DOKTER KEVIN VS GADIS PENJUAL DONAT



DOKTER KEVIN VS GADIS PENJUAL DONAT
Part 1
                Terik matahari membakar tubuhku kakiku seudah berat untuk melangkah, keringat mengalir dari tubuhku bagaikan air terjun. Siang ini aku lelah banget aku ingin cepat pulang untuk istirahat tapi jualan donatku masih numpuk banyak belum laku semua. Kalo aku pulang aku hanya akan membawa uang yang cukup untuk membeli makan aku, ibu dan adikku saja, sedangkan untuk membeli obat ibu belum ada.
                Tuhan aku mohon padamu bantulah hambamu ini, hamba mohon turunkanlah orang baik yang mau membeli jualanku (doaku dalam batin). Sambil terus melangkahkan kaki, tiba-tiba sebuah mobil Mazda 2 berwarna merah menyala berhenti tepat disampingku. Pintu mobil terbuka sepatu vantopel berkilau keluar dan mendarat di jalan, sesosok pria berpawakan tinggi, berwajah oriental dan berpenampilan rapih itu menghampiriku yang masih menatapnya dengan tatapan terpesona, ya Tuhan ini malaikat dari mana sempurna sekali (gerutuku dalam hati). Dengan senyum ramah nan menawan pria itu menanyaiku “ hy, jualan kue apa?”. Emm ini jualan donat (jawabku dengan nada grogi). “ boleh saya borong semua donatnya?”. Aku buru-buru menjawab Boleh-boleh, aku segera membungkus semua donat jualanku dan langsung aku kasih ke pria itu sambil bilang ini harganya 100 ribu. “oh, terimakasih (sambil melayangkan uang 100 ribu)”.  Akupun  mengambil uang itu dari tangannya tak disengaja aku menyentuh tangannya yang halus sambil mengucap iya sama-sama terimakasih kembali, kemudian pria itu tersenyum dan langsung kembali ke dalam mobilnya dan melesat meninggalkanku.
                Tuhan tidak pernah tidur, Tuhan selalu ada buat hamba-NYA yang membutuhkan pertolonga-NYA. Sore ini aku pulang dengan senyum lebar, aku senang karena jualanku laku semua dan aku senang karena telah bertemu malaikat. Aku bergegas membeli 3 nasi bungkus setelah itu aku lanjut keapotek nuntuk mebeli obat ibuku. Sudah dua tahun ibu sakit-sakitan dia hanya bisa berbaring lemah ditempat tidurnya, sedangkan ayahku sudah meninggal sejak aku kecil sekarang aku jadi tulang punggung keluarga.
                Adikku yang masih duduk di bangku SD sudah bisa membantu merawat ibu, adikku sadar dengan keadaan keluarga. 1 tahun yang lalu aku lulus SMA, impianku untuk bisa kuliah aku pendam diam-diam karena factor financial yang kurang mendukung.
                Sejak lulus dari sma aku sudah mencoba mencari kerja kemana-mana tapi hasilnya nihil. Maklumlah Cuma modal ijazah sma saja. Dan akhirnya aku memutuskan untuk berwirausaha berjualan donat.
                Malam telah tiba, aku mendengar isak tangis ibuku, aku sontak langsung kekamar ibu, aku memandang ibu yang sedang menggigil hebat, mukanya pucat, tubuhnya demam. Aku kasihan melihat ibu seperti itu, aku berusaha meminta tolong tetangga namun tidak ada yang bisa membantu, adik kecilku menangis, aku berusaha tegar untuk tidak menangis akan tetapi air mataku tak bisa kubendung.
                Keesokan harinya keadaan ibuku membaik, setelah menghantarkan adik ke sekolah aku melanjutkan rutinitas pekerjaanku, aku mulai berjualan donat pukul 11.00 kakiku siap melangkah mencari risky.
                Di tengah jalan aku melihat mobil mewah yang pernah aku temui beberapa waktu lalu. Mobil itu terparkir diarea rumah sakit “HARAPAN KITA” seorang dokter muda bergegas memasuki mobil itu ia masih mengenakan seragam dokternya, tanpa sengaja dokter itu melihatku yang sedang menenteng jualanku, aku mengenali wajah dokter itu, ia tidak salah lagi itu wajah yang beberapa waktu lalu memborong daganganku. Mobil dokter itu keluar dari parkiran dan berhenti persis di depanku berdiri, dokter itu keluar dari mobilnya dan langsung menujuku, “Hy, kamu yang kemarin jualan di pinggirjalan itukan?”. Iya dok, dokter yang waktu itu memborong daganganku kan?. “ iya benar “. Mau beli lagi dok? (tawarku). “iya, saya mau borong lagi”. Ok dok, aku langsung membungkus semua daganganku, klo boleh tahu dokter memborong semua daganganku buat siapa? “ini untuk anak-anak asuh saya, jangan panggil dokter y panggil nama saja, nama saya Kevin jadi panggil Kevin aja biar kelihatan akrab”. Ok dok, eh maaf maksudnya ok Kevin.
                Setelah obrolan itu aku dan dokter Kevin makin akrab, suatu hari aku diajak dokter Kevin mengunjungi sebuah panti asuhan yang duhuni belasan anak-anak Yatim Piatu dan anak Jalanan. Dokter Kevin menceritakan semua tentang panti asuhan itu, aku mencerna semua cerita dokter Kevin, sungguh luar biasa panti asuhan itu ternyata dibangun sendiri oleh Dokter Kevin, sungguh dokter muda yang memiliki hati mulia, dan sekarang aku jadi tahu kenapa dokter Kevin selalu memborong daganganku yang ternyata buat dibagikan disini di panti asuhannya.
                Sore hari yang bersahabat saat jualanku sudah habis aku diajak jalan sama Dokter Kevin, ternyata dokter Kevin tidak malu mengajakku jalan-jalan sore selain ke panti. Disela-sela obrolan kami, aku bercerita tentang sakit yang diderita ibuku.
                Hari minggu rencananya dokter Kevin akan main kerumahku, aku jadi senewen menyambut kedatangannya, tok-tok-tok bunyi ketukan pintu, aku sudah tahu siapa yang datang, segera membuka pintu dan mempersilakan dokter Kevin masuk.
                Kami ngobrol dengan asik, Dinda boleh saya lihat keadaan ibumu? Boleh Kev, mari aku antar ke kamar ibu. Hy bu perkenalkan ini Kevin teman Dinda dia seorang dokter. Dek Kevin (sapa ibu Dinda) terimakasih sudah mau berteman sama Dinda dan sudah menyempatkan main kerumah kami, sebelumnya Dinda sudah pernah bercerita tentang nak Kevin. Ibu kenapa gak dirawat di rumah sakit saja biar mendapatkan pemeriksaan dan perawatan yang intensif (tanya Kevin). Di RS kan mahal nak biayanya, ibu dan Dinda tidak punya simpanan uang lebih buat berobat ke RS. Gak usah kawatir bu soal biaya nanti insya allah saya yang nanggung. Ibu Dinda menangis mendengar ucapan Kevin, Terimakasih nak Kevin.
                Setelah 1 minggu di rawat kini kesehatan ibu Dinda jauh lebih baik, dan Dindapun sekarang makin dekat dengan dokter Kevin, disela-sela kesibukannya dokter Kevin selalu berusaha menyempatkan diri bertemu Dinda atau membantu Dinda berjualan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar