Kita
hidup di dunia ini tidak bisa hidup sendiri, kita selalu membutuhkan seseorang
yang bisa menenangkan kita dalam situasi apapun. Dan orang itu biasanya kita
sebut dengan istilah “SAHABAT”. Sahabat adalah orang yang akan selalu ada
bersama kita, orang yang akan mendekati kita meskipun dunia berusaha menjauhi
kita. Sahabat juga bisa sebagai lilin di tengah kegelapan kehidupan kita atau
mercusuar di tengah laut. Aisyah seorang sahabat yang di kirim Tuhan untuk
menemani menyusuri lika-liku kehudupanku.
Aisyah
seorang yang selalu mengerti aku, tempat aku berkeluh kesah, disini aku egois
karena aku tidak seperti Aisyah yang selalu mengertiin aku, aku egois karena
aku tidak tahu kalo sahabat sejatiku mengindap penyakit parah, aku egois aku
sangat egois. Aisyah selalu memperlihatkan wajah cerianya, Aisyah tidak pernah
kelihatan sakit di depanku, Aisyah memang wanita tegar nan luar biasa.
Bulan
Ramadhan bulan yang sangat di tunggu kedatangannya oleh pemeluk agama Islam,
aku dan Aisyah pun bersemangat menyambutnya, Ramadhan harus aku jadikan
momentum untuk menjadikanku wanita yang lebih baik lagi. Aisyah selalu
mengajariku tentang agama, Aisyah orang yang sabar, bulan Ramadhan ini aku
mempunyai niat untuk bisa lancar membaca firman-firman Allah.
“Cinta,
malam ini kita tarawih bareng selesai tarawih kita tadarus bersama”. Ajak
Aisyah. “Ok Syah, nanti habis buka puasa aku kerumahmu”. Setelah aku dan Aisyah
melaksanakan ibadah bulan Ramadhan aku berpamitan ke Aisyah untuk pulang duluan
karena Aisyah masih ada acara lagi.
Langit
begitu cerah secarah bulan nan penuh berkah, hari ini aku hari ini berangkat ke
kampus karena ada jadwal bimbingan skripsi, Aisyah selalu menemani ku
menyelesaikan skripsi walaupun Aisyah sudah selesai skripsi dan sidang Aisyah
berjanji padaku untuk wisuda bareng. Aku semangat menyelesaikan skripsi aku
tidak mau melihat Aisyah terlalu lama menunggu ku.
Sebelum
aku dekat dengan Aisyah aku tidak bisa memahami arti kehidupan, hidupku kelam
hampir setiap malam aku menghabiskan waktu di clubbing mabuk mabukan, nongkrong
dengan teman temanku dulu, aku hampir terlalu dalam terjerumus ke jurang
kesesatan. Kilas balik kehidupanku dulu.
Telpon
genggamku berdering menandakan ada panggilan masuk, Danu teman cowoku
meneleponku seperti biasa Danu mengajaku keluar dengan teman-temannya Danu
sendiri anak Genk motor yang sering balapan liar, senang senang ke clubbing,
bahkan aku hampir menyentuh barang haram narkoba.
“Cinta,
kamu sayang gak sama aku?”. Danu bertanya saat sedang mabuk aku dan Danu keluar
clubbing dalam keadaan mabuh, “Iya sayang, aku sangat sayang banget sama kamu”,
“Buktinya apa sayang?” “Buktinya aku akan memberikan apapun yang kamu mau
sayang” “Benarkah itu sayang?” “Iya sayang” “Cinta malam ini kita nginap di
hotel ya” “Kenapa harus nginap di hotel sayang” “Aku masih ingin bersamamu
sayang” “Ok, sayang aku akan ikut kamu”. Mobil Danu melaju dengan cepat menuju
hotel, Danu memesan kamar, di kamar hotel ini awal petaka bagiku, kamar hotel
yang menjadi saksi bisu kegilaanku dengan Danu. Entah setan apa yang merasuki
Danu, Danu membuka kemejanya, kemudian dia menciumiku dan berbisik kepadaku
“Sayang aku ingin memiliki mu” dengan nafas yang memburu Danu terus mencumbuku,
aku juga seperti ada setan jahat yang merasukiku aku tidak bisa melawan perbuatan
Danu yang di lakukan padaku aku malah menikmati perlakuan bejat Danu.
Tunggu-tunggu
ko aku cerita tentang diriku sendiri ya hehehe, padahal yang ingin aku
ceritakan tentang Aisyah sahabatku. Ok gak pp tahu sedikit tentang diriku, yuk
lanjut dengerin aku cerita tentang Aisyah sahabatku, maaf tadi di atas
ceritanya sampai mana ya???.... Maklum lupa faktor usia kali ya hehehe.
“Aisyah,
kamu gak lagi sakit kan?” tanyaku dengan suara yang halus
“Gak
Cinta, aku Cuma ke capean aja, tadi malam aku tidur ketika sudah larut”.
Aisyah
kelihatan pucat banget hari ini, sampai aku tidak tega melihatnya. “Aisyah, klo
kamu sakit mending kamu jangan puasa aja, kamu bisa menggantinya nanti”
“Enggak
sakit ko Cinta, aku hanya kecapean aja aku kurang istirahat aja”
“Iya
Aisyah terserah kamua aja”. Ramadhan memasuki minggu terakhir, Aisyah sejak
satu minggu yang lalu dia tidak terlihat, aku jadi kwatir dengan keadaanya, aku
mencoba menghubunginya tapi nomornya tidak aktif, aku juga mencoba bertanya
kepada mamahnya tapi dia selalu menghindar menjawab tentang Aisyah, aku merasa
ada yang janggal dengan Aisyah, aku merasa Aisyah menyembunyikan sesuatu
dariku.
Rembulan
mala mini bersinar begitu indah memamerkan keelokannya, selepas sholat tarawih
aku berencana mendatangi rumah Aisyah, setiba di rumah Aisyah, hanya ada
adiknya aja, ketika aku bertanya tentang Aisyah adik Aisyah hanya menangis, aku
jadi makin penasaran sebenarnya ada apa ini, apa yang Aisyah sembunyikan
dariku, ke dua arang tua Aisyah juga tidak ada di rumah, adik Aisyah hanya
bilang mereka bertiga sedang keluar kota, tapi kenapa Aisyah tidak
memberitahuku, kenapa Aisyah tidak bisa di hubungi, Aisyah seolah ingin
menghindariku, kenapa? Apa salah ku?.
“Mamah,
papah, maafin Aisyah jika selama ini Aisyah punya salah sama mamah dan papah”
suara Aisyah lirih.
“Tidak
Aisyah, salama ini kamu telah menjadi anak yang soleha dan berbakti ke pada
orang tua” jawab mamah Aisyah dengan berlinangan air mata dan suara tercekat.
“Iya
nak benar apa yang mamah kamu katakana, kamu tidak pernah salah sama orang tua”
“Mamah,
papah, Aisyah merasa sudah tidak lama lagi Aisyah bisa bersama mamah, papah dan
adek, Aisyah merasa Allah akan membawa Aisyah ke tempat yang begitu indah”
“Nak,
kamu ngomong apa?. Sayang jangan ngomong kayak gitu kamu pasti sembuh, dokter
akan terus berjuang untuk kesembuhan mu” air mata mamah Aisyah semakin deras
membanjiri pipinya.
“Mah,
Pah, bulan Ramadhan akan segera berakhir di tahun ini, Begitu pun dengan
Aisyah, Aisyah sudah menyerahkan semua hidup Aisyah ke Allah, Aisyah AIkhlas
dengan semua ujian yang Allah berikan ke Aisyah. Mamah dan papah jangan sedih
ya’’. Suara Aisyah terdengar begitu berat dan tercekat. Mamah dan papah Aisyah
tidak bisa ngomong apa-apa hanya bisa menangis dan menciumi tangan anaknya yang
sedang berbaring lemah di ranjang Rumah Sakit.
Sehari
sebelum hari yang fitri datang, Aisyah meninggalkan kita semua, aku mendapat
kabar itu dari Nando adik Aisyah.
“Aisyah,
kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku, aku masih membutuhkanmu Aisyah, aku
masih ingin belajar tentang agama, tentang hidup dan tentang ke iklasan
menerima ujian dan cobaan dari Allah”. Aku hanya bisa menangis di depan tubuh
kaku sahabatku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku merasa kehilangan yang
begitu dalam.
Aku
menyesal karena aku tidak pernah tahu penyakit yang di derita sahabatku
sendiri, aku hanya bisa merepotkannya, Aisyah begitu hebat menyembunyikan
kesakitannya di balik senyum dan cerianya.
Aisyah
terimakasih sudah menjadi sahabat ku selama dua tahun terakhir, kamu telah merubah
hidupku Aisyah, kamu berhasil membuatku Hijrah dan mengenali dengan baik
agamaku, Aisyah kamu akan selalu hidup di hatiku. Aku akan selalu mengenangmu
Aisyah. Maafkan aku Aisyah yang sering merepotkan kamu.
Aisyah
lihatlah dari sana Aku sekarang sudah memutuskan berhijab, itu semua karena
Allah yang telah mengenalkanku kepadamu.