Selasa, 22 Agustus 2017

AISYAH



Kita hidup di dunia ini tidak bisa hidup sendiri, kita selalu membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan kita dalam situasi apapun. Dan orang itu biasanya kita sebut dengan istilah “SAHABAT”. Sahabat adalah orang yang akan selalu ada bersama kita, orang yang akan mendekati kita meskipun dunia berusaha menjauhi kita. Sahabat juga bisa sebagai lilin di tengah kegelapan kehidupan kita atau mercusuar di tengah laut. Aisyah seorang sahabat yang di kirim Tuhan untuk menemani menyusuri lika-liku kehudupanku.
Aisyah seorang yang selalu mengerti aku, tempat aku berkeluh kesah, disini aku egois karena aku tidak seperti Aisyah yang selalu mengertiin aku, aku egois karena aku tidak tahu kalo sahabat sejatiku mengindap penyakit parah, aku egois aku sangat egois. Aisyah selalu memperlihatkan wajah cerianya, Aisyah tidak pernah kelihatan sakit di depanku, Aisyah memang wanita tegar nan luar biasa.
Bulan Ramadhan bulan yang sangat di tunggu kedatangannya oleh pemeluk agama Islam, aku dan Aisyah pun bersemangat menyambutnya, Ramadhan harus aku jadikan momentum untuk menjadikanku wanita yang lebih baik lagi. Aisyah selalu mengajariku tentang agama, Aisyah orang yang sabar, bulan Ramadhan ini aku mempunyai niat untuk bisa lancar membaca firman-firman Allah.
“Cinta, malam ini kita tarawih bareng selesai tarawih kita tadarus bersama”. Ajak Aisyah. “Ok Syah, nanti habis buka puasa aku kerumahmu”. Setelah aku dan Aisyah melaksanakan ibadah bulan Ramadhan aku berpamitan ke Aisyah untuk pulang duluan karena Aisyah masih ada acara lagi.
Langit begitu cerah secarah bulan nan penuh berkah, hari ini aku hari ini berangkat ke kampus karena ada jadwal bimbingan skripsi, Aisyah selalu menemani ku menyelesaikan skripsi walaupun Aisyah sudah selesai skripsi dan sidang Aisyah berjanji padaku untuk wisuda bareng. Aku semangat menyelesaikan skripsi aku tidak mau melihat Aisyah terlalu lama menunggu ku.
Sebelum aku dekat dengan Aisyah aku tidak bisa memahami arti kehidupan, hidupku kelam hampir setiap malam aku menghabiskan waktu di clubbing mabuk mabukan, nongkrong dengan teman temanku dulu, aku hampir terlalu dalam terjerumus ke jurang kesesatan. Kilas balik kehidupanku dulu.
Telpon genggamku berdering menandakan ada panggilan masuk, Danu teman cowoku meneleponku seperti biasa Danu mengajaku keluar dengan teman-temannya Danu sendiri anak Genk motor yang sering balapan liar, senang senang ke clubbing, bahkan aku hampir menyentuh barang haram narkoba.
“Cinta, kamu sayang gak sama aku?”. Danu bertanya saat sedang mabuk aku dan Danu keluar clubbing dalam keadaan mabuh, “Iya sayang, aku sangat sayang banget sama kamu”, “Buktinya apa sayang?” “Buktinya aku akan memberikan apapun yang kamu mau sayang” “Benarkah itu sayang?” “Iya sayang” “Cinta malam ini kita nginap di hotel ya” “Kenapa harus nginap di hotel sayang” “Aku masih ingin bersamamu sayang” “Ok, sayang aku akan ikut kamu”. Mobil Danu melaju dengan cepat menuju hotel, Danu memesan kamar, di kamar hotel ini awal petaka bagiku, kamar hotel yang menjadi saksi bisu kegilaanku dengan Danu. Entah setan apa yang merasuki Danu, Danu membuka kemejanya, kemudian dia menciumiku dan berbisik kepadaku “Sayang aku ingin memiliki mu” dengan nafas yang memburu Danu terus mencumbuku, aku juga seperti ada setan jahat yang merasukiku aku tidak bisa melawan perbuatan Danu yang di lakukan padaku aku malah menikmati perlakuan bejat Danu.
Tunggu-tunggu ko aku cerita tentang diriku sendiri ya hehehe, padahal yang ingin aku ceritakan tentang Aisyah sahabatku. Ok gak pp tahu sedikit tentang diriku, yuk lanjut dengerin aku cerita tentang Aisyah sahabatku, maaf tadi di atas ceritanya sampai mana ya???.... Maklum lupa faktor usia kali ya hehehe.
“Aisyah, kamu gak lagi sakit kan?” tanyaku dengan suara yang halus
“Gak Cinta, aku Cuma ke capean aja, tadi malam aku tidur ketika sudah larut”.
Aisyah kelihatan pucat banget hari ini, sampai aku tidak tega melihatnya. “Aisyah, klo kamu sakit mending kamu jangan puasa aja, kamu bisa menggantinya nanti”
“Enggak sakit ko Cinta, aku hanya kecapean aja aku kurang istirahat aja”
“Iya Aisyah terserah kamua aja”. Ramadhan memasuki minggu terakhir, Aisyah sejak satu minggu yang lalu dia tidak terlihat, aku jadi kwatir dengan keadaanya, aku mencoba menghubunginya tapi nomornya tidak aktif, aku juga mencoba bertanya kepada mamahnya tapi dia selalu menghindar menjawab tentang Aisyah, aku merasa ada yang janggal dengan Aisyah, aku merasa Aisyah menyembunyikan sesuatu dariku.
Rembulan mala mini bersinar begitu indah memamerkan keelokannya, selepas sholat tarawih aku berencana mendatangi rumah Aisyah, setiba di rumah Aisyah, hanya ada adiknya aja, ketika aku bertanya tentang Aisyah adik Aisyah hanya menangis, aku jadi makin penasaran sebenarnya ada apa ini, apa yang Aisyah sembunyikan dariku, ke dua arang tua Aisyah juga tidak ada di rumah, adik Aisyah hanya bilang mereka bertiga sedang keluar kota, tapi kenapa Aisyah tidak memberitahuku, kenapa Aisyah tidak bisa di hubungi, Aisyah seolah ingin menghindariku, kenapa? Apa salah ku?.
“Mamah, papah, maafin Aisyah jika selama ini Aisyah punya salah sama mamah dan papah” suara Aisyah lirih.
“Tidak Aisyah, salama ini kamu telah menjadi anak yang soleha dan berbakti ke pada orang tua” jawab mamah Aisyah dengan berlinangan air mata dan suara tercekat.
“Iya nak benar apa yang mamah kamu katakana, kamu tidak pernah salah sama orang tua”
“Mamah, papah, Aisyah merasa sudah tidak lama lagi Aisyah bisa bersama mamah, papah dan adek, Aisyah merasa Allah akan membawa Aisyah ke tempat yang begitu indah”
“Nak, kamu ngomong apa?. Sayang jangan ngomong kayak gitu kamu pasti sembuh, dokter akan terus berjuang untuk kesembuhan mu” air mata mamah Aisyah semakin deras membanjiri pipinya.
“Mah, Pah, bulan Ramadhan akan segera berakhir di tahun ini, Begitu pun dengan Aisyah, Aisyah sudah menyerahkan semua hidup Aisyah ke Allah, Aisyah AIkhlas dengan semua ujian yang Allah berikan ke Aisyah. Mamah dan papah jangan sedih ya’’. Suara Aisyah terdengar begitu berat dan tercekat. Mamah dan papah Aisyah tidak bisa ngomong apa-apa hanya bisa menangis dan menciumi tangan anaknya yang sedang berbaring lemah di ranjang Rumah Sakit.
Sehari sebelum hari yang fitri datang, Aisyah meninggalkan kita semua, aku mendapat kabar itu dari Nando adik Aisyah.
“Aisyah, kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku, aku masih membutuhkanmu Aisyah, aku masih ingin belajar tentang agama, tentang hidup dan tentang ke iklasan menerima ujian dan cobaan dari Allah”. Aku hanya bisa menangis di depan tubuh kaku sahabatku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku merasa kehilangan yang begitu dalam.
Aku menyesal karena aku tidak pernah tahu penyakit yang di derita sahabatku sendiri, aku hanya bisa merepotkannya, Aisyah begitu hebat menyembunyikan kesakitannya di balik senyum dan cerianya.
Aisyah terimakasih sudah menjadi sahabat ku selama dua tahun terakhir, kamu telah merubah hidupku Aisyah, kamu berhasil membuatku Hijrah dan mengenali dengan baik agamaku, Aisyah kamu akan selalu hidup di hatiku. Aku akan selalu mengenangmu Aisyah. Maafkan aku Aisyah yang sering merepotkan kamu.
Aisyah lihatlah dari sana Aku sekarang sudah memutuskan berhijab, itu semua karena Allah yang telah mengenalkanku kepadamu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar