Senin, 23 Oktober 2017

KU IZINKAN SUAMIKU MENIKAH LAGI



Kabut hitam semakin tebal minghias atap bumi, angin bertiup semakin kencang menghembuskan kesedihanku yang semakin mendalam. Hatiku hancur berkeping-keping, aku merasa tidak bisa menjadi perempuan sejati, perempuan yang mampu membahagiakan suami. Setelah lima tahun pernikahanku dengan mas Andra aku tidak bisa memberikan mas Andra keturunan, sedih rasanya aku gagal menjadi istri yang di inginkan oleh suami manapun. Walaupun mas Andra menerimaku apa adanya tanpa mengurangi kasih sayangnya padaku tapi aku merasa bersalah. Setiap malam aku selalu bersujud menghadap Sang Kuasa. “Ya Allah jika ini yang terbaik untuk suamiku aku akan merelakan suamiku menikah lagi dengan perempuan lain, karena aku tidak bisa memberikannya keturunan”. Alir mataku begitu deras membanjiri pipiku.
Mungkin suamiku tetap mencintaiku apa adanya walaupun aku tidak bisa memberikannya keturunan akan tetapi ibu mertuaku yang sepertinya mulai tidak menyukaiku. Ibu mertuaku begitu memperlihatkan ketidak sukanya kepadaku bahkan selalu menyindirku tentang keturunan dan poligami. Walaupun suamiku tetap menguatkanku agar tidak mengambil hati omongan ibunya namun tetap saja aku merasa sakit hati.
“Mas, apa mas tidak menyesal menikah denganku” suatu malam aku melontarkan kalimat itu. “Isteriku aku tidak pernah menyesal menikah dengamu, kamu wanita sholeha dan berbakti pada suami” jawab suamiku sambil membelai indah rambutku. “Walaupun aku tidak bisa memberikan keturunan?” tanyaku lebih lanjut. “Isteriku, soal keturunan kita serahkan semuanya pada Allah. Isteriku aku akan mencintaimu apa adanya” aku mulai meneteskan air mata “Maafkan aku mas, aku tidak bisa menjadi isteri yang sempurna, aku tidak bisa memberikan keturunan, tanpa kehadiran anak pernikahan terasa hambar mas” aku terisak mengucapkannya. “Isteriku, anak merupakan titipan Allah, jadi kita hanya bisa berdoa semoga Allah mempercayai kita sehingga kita di berikan keturunan, isteriku ini sudah malam lebih baik kita istirahat saja” suamiku menutup obrolan.
“Rima, kapan kamu akan hamil, usia pernikan mu sudah tidak muda lagi?” tiba-tiba ibu mertuaku berkata itu kepadaku. “Mamah, aku sudah berusaha untuk bisa hamil, tapi hasilnya belum terlihat”. Sakit rasanya ibu mertuaku berkata itu “Suami mu sudah sangat menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga kalian?”. “Iya mah, tapi keturunan datangnya dari Allah, mungkin Allah belum mengizinkan aku untuk mengandung” jawabku dengan suara tersekat.
“Yohan, mamah mau ngomong sebentar?” “Iya Mah, mau bahas apa?, aku lagi cape banget nih mah” “Ini soal Istrimu?” “Ada apa dengan Rima mah?” “Klo Rima belum bisa mengasih mamah cucu, mending kamu cari istri lagi, mamah sudah tua keinginan mamah hanya ingin menggendong cucu, mamah punya kenalan anak teman mamah?. “Mamah ngomong apa? Yohan tidak negerti. Emmm Mamah mau Yohan mempoligami Rima?” “Iya, agama kita membolehkan poligami, mamah pikir kamu akan mampu berpoligami” “Mamah, Yohan sangat sayang pada Rima. Yohan sudah berjanji apapun keadaanya aku dan Rima akan selalu bersama. Piligami hanya akan menyakiti hati Rima dan hatiku juga mah. “Tapi mamah mau punya cucu dan mamah sudah memutuskan kamu harus nikah lagi, kamu harus segera membicarakan hal ini pada Rima, klo tidak biar mamah saja yang akan ngomong”. “Mah, Yohan tidak akan berpoligami. Lagian klo Rima tidak bisa memberikan mamah cucu, kita kan bisa mengadopsi anak dari Rumah sakit atau panti asuhan” “Mamah tidak mau punya cucu yang bukan darah daging anak mamah sendiri” “Sudah mah, Yohan cape, mau istirahat dulu”. Aku secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan itu, sakit hati ini mendengarnya, tapi apa boleh buat yang di omongin mamah ada benarnya juga, aku harus mengiklaskan mas Yohan menikah lagi, demi kebahagian Mamah dan mas Yohan. Jam menunjukan pukul 02.00 aku terbangun dari tidurku dan teringat obrolan mamah dan suamiku, aku tidak tenang dengan semua ini. Sholat ya sholat malam mungkin akan membuatku lebih tenang. Dalam heningnya malam aku bersimpu pada Sang Pencipta “Ya Allah, hanya kepadamu hamba meminta dan memohon, ya Allah hamba tahu hamba tidak bisa memberikan keturunan untuk suami dan mertua hamba, aku ikhlas dengan ini semua ya Allah. Ya Allah, jika poligami akan menyelesaikan sumua masalah ini hamba akan Ikhlas memberikan suami hamba kepada wanita lain walaupun itu sakit. Hamba iklhas dengan semua ini ya Allah”.
Siang yang cerah tapi tidak dengan hatiku tiba-tiba ibu mertuaku bicara “Rima, apa Yohan sudah berbicara dengan mu” “Maaf mah, bicara apa?” aku sudah tahu arah pembicaraan ini semua “Tentang poligami, mamah akan menjodohkan suamimu dengan perempuan lain, mamah harap kamu ikhlas dan mendukung. Kamu tahu kan alasannya apa”. Sakit dan sedih mendengarnya, hatiku hancur berkeping-keping tak terasa air mataku begitu deras membanjiri pipiku. “Mas Yohan belum bicara tentang itu mah, aku ngerti mah, insyaallah jika mas Yohan bicara aku akan siap dan ikhlas mendengarnya”. “Minggu depan mamah akan  mengenalkan wanita yang akan menikah dengan suamimu. Tenang saja kamu jangan kwatir wanita ini wanita baik-baik dan muslimah”. Sebaik apapun wanita itu pasti akan membuat hatiku sakit, perempuan mana yang Iklhas suaminya berbagi ranjang. Tapi aku akan berusaha ikhlas demi Syurga-NYA.
Setelah ibu mertuaku berbicara itu, setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak, aku gelisah memikirkan semuanya, ku pandangi wajah suamiku ketika dia tidur, ada rasa kasihan dengannya, seharusnya dia sudah menjadi sosok ayah bagi anak-anaknya. Suamiku sampai saat ini belum bicara tentang poligami, mungkin dia tidak mau menyakiti hatiku. Apa aku yang harus berbicara duluan, tapi aku takut dia akan marah dengan apa yang aku bicarakan. Ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk bicara duluan.
Satu hari sebelum ibu mertuaku mengenalkan wanita lain dan suamiku belum bicara apapun dan aku yang harus bicara dengan suamiku. Ini waktu yang pas untuk bicara, kubuatkan suamiku secangkir kopi, sambil duduk santai di teras rumah menikmati indahnya senja aku memulai obrolan pahit itu. “Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan” “Iya sayang, mau bicara apa?” “Tentang masa depan mu mas, masa depan pernikahan kita” “Ada apa dengan masadepanku sayang? Ada apa dengan pernikahan kita?” “Mas, aku pernah mendengar mamah bicara pada mas tentang keturunan, dan mamah sudah bicara dengan ku tentang solusinya” air mataku mulai terurai mengalir, tenggorokanku terasa berat tercekat “Apa maksudmu sayang, mamah bicara apa padamu?” “Mas, jika ini yang terbaik untuk kita semua saya Ikhlas mas menikah lagi” aku mengeluarkan kalimat itu dengan terbata-bata di iringi dengan sesenggukanku “Apa maksudmu sayang?. Cuma kamu yang aku cintai istriku, apapun yang terjadi aku tidak akan menyakitimu” “Mas, mamah mau menggendong cucu, dan aku tidak bisa memberikan mamah cucu, aku ikhlas mas menikah lagi, aku ikhlas di poligami” “Sayang, stop jangan bahas ini” mas Yohan memelukku dengan erat “Mas, maaf aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna buat mas. Mas tolong setujui permintaanku ini” “Sayang ini bukan permintaanmu, ini permintaan mamah. Sayang wanita mana yang tidak akan sakit hati melihat suaminya menikah lagi” aku terisak-isak mendengar jawaban suamiku “Mas, aku ikhlas, besok wanita yang akan menikah dengan mas akan datang kesini, mamah sudah menyiapkan ini semua, sekali lagi aku minta maaf mas, tidak bisa menjadi wanita sempurna. Mas harus menikah lagi, demi keturunan mas, aku ikhlas mas” aku semakin terisak, suamiku semakin erat memelukku, dia tidak bisa ngomong apapun, kini yang terdengar hanya isak tangis kami berdua.
Hari itu telah datang, hari dimana hatiku berkeping-keping saat melihat Mas Yohan berjabat tangan dengan calon istrinya. Aku bahkan tidak tahan melihat ini semua, namun aku harus tegar dengan ini semua, aku berusaha untuk tidak menangis agar mas Yohan makin yakin dengan keputusan ini. Aku berhasil menahan air mataku tapi aku melihat mas Yohan yang tidak kuat membendung air matanya, mas Yohan menjatuhkan air matanya ketika ia menyetujui pernikahan keduanya, mas Yohan menatapku dengan tatapan tidak berdaya dan aku berusaha tersenyum. Setelah selesai aku langsung meninggalkan ruang tamu. Aku menangis setelah masuk kamar, mas Yohan segera menyusulku, dia memelukku dan jatuh bersimpu di kakiku, mas Yohan meminta maaf padaku, aku tidak tega melihatnya seperti ini, aku membangunkan mas Yohan, mas Yohan kembali memelukku dengan erat dan aku berbisik “Mas, aku Ikhlas, percayalah padaku”.
Dua bulan setelah itu kini tiba saatnya mas Yohan menikah dengan Azizah wanita yang akan menjadi istri ke dua suamiku. Aku menyiapkan setelan Jas untuk mas Yohan, hari ini aku harus tersenyum tidak boleh ada tangis dalam mataku, sebelum ijab kobul mas Yohan meminta maaf kepadaku lagi. Dengan sekali nafas akhirnya resmi aku di poligami.
“Mas, Rima minta sayangi Azizah seperti mas menyayangi aku, Mas harus berlaku adil dan jangan pernah mas sakiti Azizah” “Iya sayang aku janji akan berlaku adil”
Waktu begitu cepat bergerak, kini sudah 1 tahun mas Yohan membagi cintanya, mas Yohan menepati janjinya untuk berlaku adil, kini kita bertiga hidup bahagia. Azizah melahirkan anak pertamanya senang rasanya mendengar tangis bayi di pernikahan ini, walaupun bayi itu bukan lahir dari rahimku tapi aku sangat menyayanginya, kini mas Yohan resmi menjadi sosok ayah dan ibu mertuaku kini menjadi nenek. Seberat apapun cobaan dalam hidup klo kita jalani dengan ikhlas dan menjadikannya sebagai ibadah pasti akan bahagia.