Kabut hitam semakin tebal minghias
atap bumi, angin bertiup semakin kencang menghembuskan kesedihanku yang semakin
mendalam. Hatiku hancur berkeping-keping, aku merasa tidak bisa menjadi
perempuan sejati, perempuan yang mampu membahagiakan suami. Setelah lima tahun
pernikahanku dengan mas Andra aku tidak bisa memberikan mas Andra keturunan,
sedih rasanya aku gagal menjadi istri yang di inginkan oleh suami manapun.
Walaupun mas Andra menerimaku apa adanya tanpa mengurangi kasih sayangnya
padaku tapi aku merasa bersalah. Setiap malam aku selalu bersujud menghadap
Sang Kuasa. “Ya Allah jika ini yang terbaik untuk suamiku aku akan merelakan
suamiku menikah lagi dengan perempuan lain, karena aku tidak bisa memberikannya
keturunan”. Alir mataku begitu deras membanjiri pipiku.
Mungkin suamiku tetap mencintaiku
apa adanya walaupun aku tidak bisa memberikannya keturunan akan tetapi ibu
mertuaku yang sepertinya mulai tidak menyukaiku. Ibu mertuaku begitu
memperlihatkan ketidak sukanya kepadaku bahkan selalu menyindirku tentang
keturunan dan poligami. Walaupun suamiku tetap menguatkanku agar tidak
mengambil hati omongan ibunya namun tetap saja aku merasa sakit hati.
“Mas, apa mas tidak menyesal
menikah denganku” suatu malam aku melontarkan kalimat itu. “Isteriku aku tidak
pernah menyesal menikah dengamu, kamu wanita sholeha dan berbakti pada suami”
jawab suamiku sambil membelai indah rambutku. “Walaupun aku tidak bisa
memberikan keturunan?” tanyaku lebih lanjut. “Isteriku, soal keturunan kita
serahkan semuanya pada Allah. Isteriku aku akan mencintaimu apa adanya” aku
mulai meneteskan air mata “Maafkan aku mas, aku tidak bisa menjadi isteri yang
sempurna, aku tidak bisa memberikan keturunan, tanpa kehadiran anak pernikahan
terasa hambar mas” aku terisak mengucapkannya. “Isteriku, anak merupakan
titipan Allah, jadi kita hanya bisa berdoa semoga Allah mempercayai kita
sehingga kita di berikan keturunan, isteriku ini sudah malam lebih baik kita
istirahat saja” suamiku menutup obrolan.
“Rima, kapan kamu akan hamil, usia
pernikan mu sudah tidak muda lagi?” tiba-tiba ibu mertuaku berkata itu
kepadaku. “Mamah, aku sudah berusaha untuk bisa hamil, tapi hasilnya belum
terlihat”. Sakit rasanya ibu mertuaku berkata itu “Suami mu sudah sangat
menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga kalian?”. “Iya mah, tapi
keturunan datangnya dari Allah, mungkin Allah belum mengizinkan aku untuk
mengandung” jawabku dengan suara tersekat.
“Yohan, mamah mau ngomong
sebentar?” “Iya Mah, mau bahas apa?, aku lagi cape banget nih mah” “Ini soal Istrimu?”
“Ada apa dengan Rima mah?” “Klo Rima belum bisa mengasih mamah cucu, mending
kamu cari istri lagi, mamah sudah tua keinginan mamah hanya ingin menggendong
cucu, mamah punya kenalan anak teman mamah?. “Mamah ngomong apa? Yohan tidak
negerti. Emmm Mamah mau Yohan mempoligami Rima?” “Iya, agama kita membolehkan
poligami, mamah pikir kamu akan mampu berpoligami” “Mamah, Yohan sangat sayang
pada Rima. Yohan sudah berjanji apapun keadaanya aku dan Rima akan selalu
bersama. Piligami hanya akan menyakiti hati Rima dan hatiku juga mah. “Tapi
mamah mau punya cucu dan mamah sudah memutuskan kamu harus nikah lagi, kamu
harus segera membicarakan hal ini pada Rima, klo tidak biar mamah saja yang
akan ngomong”. “Mah, Yohan tidak akan berpoligami. Lagian klo Rima tidak bisa
memberikan mamah cucu, kita kan bisa mengadopsi anak dari Rumah sakit atau
panti asuhan” “Mamah tidak mau punya cucu yang bukan darah daging anak mamah
sendiri” “Sudah mah, Yohan cape, mau istirahat dulu”. Aku secara tidak sengaja
mendengarkan pembicaraan itu, sakit hati ini mendengarnya, tapi apa boleh buat
yang di omongin mamah ada benarnya juga, aku harus mengiklaskan mas Yohan
menikah lagi, demi kebahagian Mamah dan mas Yohan. Jam menunjukan pukul 02.00
aku terbangun dari tidurku dan teringat obrolan mamah dan suamiku, aku tidak
tenang dengan semua ini. Sholat ya sholat malam mungkin akan membuatku lebih
tenang. Dalam heningnya malam aku bersimpu pada Sang Pencipta “Ya Allah, hanya
kepadamu hamba meminta dan memohon, ya Allah hamba tahu hamba tidak bisa
memberikan keturunan untuk suami dan mertua hamba, aku ikhlas dengan ini semua
ya Allah. Ya Allah, jika poligami akan menyelesaikan sumua masalah ini hamba
akan Ikhlas memberikan suami hamba kepada wanita lain walaupun itu sakit. Hamba
iklhas dengan semua ini ya Allah”.
Siang yang cerah tapi tidak dengan
hatiku tiba-tiba ibu mertuaku bicara “Rima, apa Yohan sudah berbicara dengan
mu” “Maaf mah, bicara apa?” aku sudah tahu arah pembicaraan ini semua “Tentang
poligami, mamah akan menjodohkan suamimu dengan perempuan lain, mamah harap
kamu ikhlas dan mendukung. Kamu tahu kan alasannya apa”. Sakit dan sedih
mendengarnya, hatiku hancur berkeping-keping tak terasa air mataku begitu deras
membanjiri pipiku. “Mas Yohan belum bicara tentang itu mah, aku ngerti mah,
insyaallah jika mas Yohan bicara aku akan siap dan ikhlas mendengarnya”. “Minggu
depan mamah akan mengenalkan wanita yang
akan menikah dengan suamimu. Tenang saja kamu jangan kwatir wanita ini wanita
baik-baik dan muslimah”. Sebaik apapun wanita itu pasti akan membuat hatiku
sakit, perempuan mana yang Iklhas suaminya berbagi ranjang. Tapi aku akan
berusaha ikhlas demi Syurga-NYA.
Setelah ibu mertuaku berbicara itu,
setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak, aku gelisah memikirkan semuanya, ku
pandangi wajah suamiku ketika dia tidur, ada rasa kasihan dengannya, seharusnya
dia sudah menjadi sosok ayah bagi anak-anaknya. Suamiku sampai saat ini belum
bicara tentang poligami, mungkin dia tidak mau menyakiti hatiku. Apa aku yang
harus berbicara duluan, tapi aku takut dia akan marah dengan apa yang aku
bicarakan. Ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk bicara duluan.
Satu hari sebelum ibu mertuaku
mengenalkan wanita lain dan suamiku belum bicara apapun dan aku yang harus
bicara dengan suamiku. Ini waktu yang pas untuk bicara, kubuatkan suamiku
secangkir kopi, sambil duduk santai di teras rumah menikmati indahnya senja aku
memulai obrolan pahit itu. “Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan” “Iya
sayang, mau bicara apa?” “Tentang masa depan mu mas, masa depan pernikahan
kita” “Ada apa dengan masadepanku sayang? Ada apa dengan pernikahan kita?”
“Mas, aku pernah mendengar mamah bicara pada mas tentang keturunan, dan mamah
sudah bicara dengan ku tentang solusinya” air mataku mulai terurai mengalir,
tenggorokanku terasa berat tercekat “Apa maksudmu sayang, mamah bicara apa
padamu?” “Mas, jika ini yang terbaik untuk kita semua saya Ikhlas mas menikah
lagi” aku mengeluarkan kalimat itu dengan terbata-bata di iringi dengan
sesenggukanku “Apa maksudmu sayang?. Cuma kamu yang aku cintai istriku, apapun
yang terjadi aku tidak akan menyakitimu” “Mas, mamah mau menggendong cucu, dan
aku tidak bisa memberikan mamah cucu, aku ikhlas mas menikah lagi, aku ikhlas
di poligami” “Sayang, stop jangan bahas ini” mas Yohan memelukku dengan erat
“Mas, maaf aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna buat mas. Mas tolong
setujui permintaanku ini” “Sayang ini bukan permintaanmu, ini permintaan mamah.
Sayang wanita mana yang tidak akan sakit hati melihat suaminya menikah lagi”
aku terisak-isak mendengar jawaban suamiku “Mas, aku ikhlas, besok wanita yang
akan menikah dengan mas akan datang kesini, mamah sudah menyiapkan ini semua,
sekali lagi aku minta maaf mas, tidak bisa menjadi wanita sempurna. Mas harus
menikah lagi, demi keturunan mas, aku ikhlas mas” aku semakin terisak, suamiku
semakin erat memelukku, dia tidak bisa ngomong apapun, kini yang terdengar
hanya isak tangis kami berdua.
Hari itu telah datang, hari dimana
hatiku berkeping-keping saat melihat Mas Yohan berjabat tangan dengan calon
istrinya. Aku bahkan tidak tahan melihat ini semua, namun aku harus tegar
dengan ini semua, aku berusaha untuk tidak menangis agar mas Yohan makin yakin
dengan keputusan ini. Aku berhasil menahan air mataku tapi aku melihat mas
Yohan yang tidak kuat membendung air matanya, mas Yohan menjatuhkan air matanya
ketika ia menyetujui pernikahan keduanya, mas Yohan menatapku dengan tatapan
tidak berdaya dan aku berusaha tersenyum. Setelah selesai aku langsung
meninggalkan ruang tamu. Aku menangis setelah masuk kamar, mas Yohan segera
menyusulku, dia memelukku dan jatuh bersimpu di kakiku, mas Yohan meminta maaf
padaku, aku tidak tega melihatnya seperti ini, aku membangunkan mas Yohan, mas
Yohan kembali memelukku dengan erat dan aku berbisik “Mas, aku Ikhlas,
percayalah padaku”.
Dua bulan setelah itu kini tiba
saatnya mas Yohan menikah dengan Azizah wanita yang akan menjadi istri ke dua
suamiku. Aku menyiapkan setelan Jas untuk mas Yohan, hari ini aku harus
tersenyum tidak boleh ada tangis dalam mataku, sebelum ijab kobul mas Yohan
meminta maaf kepadaku lagi. Dengan sekali nafas akhirnya resmi aku di poligami.
“Mas, Rima minta sayangi Azizah
seperti mas menyayangi aku, Mas harus berlaku adil dan jangan pernah mas sakiti
Azizah” “Iya sayang aku janji akan berlaku adil”
Waktu begitu cepat bergerak, kini
sudah 1 tahun mas Yohan membagi cintanya, mas Yohan menepati janjinya untuk
berlaku adil, kini kita bertiga hidup bahagia. Azizah melahirkan anak
pertamanya senang rasanya mendengar tangis bayi di pernikahan ini, walaupun
bayi itu bukan lahir dari rahimku tapi aku sangat menyayanginya, kini mas Yohan
resmi menjadi sosok ayah dan ibu mertuaku kini menjadi nenek. Seberat apapun
cobaan dalam hidup klo kita jalani dengan ikhlas dan menjadikannya sebagai
ibadah pasti akan bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar