Senin, 23 April 2018

ANGGA

Angin terus berhembus , awan hitam terus bergejolak di angkasa seakan sudah ingin menjatuhkan butir-butir Kristal kehidupan. Jam menunjukan pukul 22.30 tapi mataku belum bisa terpejam, memori otakku terus berputar kebelakang membayangkan sosok wanita tangguh yang membesarkan aku dan ketiga adikku, wanita luar biasa tidak pernah mengenal kata lelah dalam hidupnya. Wanita yang berhasil menghantarkan ku seperti sekarang.
            Membayangkan getirnya kehidupan masa lalu ku kadang membuat aku tersentuh dengan perjuangan keluarga kecilku, keluarga tanpa nahkoda kehidupan. Sebagian orang mungkin akan melupakan kenangan pahit dalam hidupnya tapi aku tidak akan melupakan hal itu, Karena masa lalu itu akan selalu hidup dengan kita sampai kapanpun. Ada sebuah mimpi yang sederhana ketika aku duduk di bangku Smp, mimpi yang sederhana namun bagiku itu adalah mimpi yang begitu indah.
            Angga kecil sudah terbiasa merasakan kerasnya hidup, setiap jam 04.00 Angga sudah bangun mengerjakan sholat subuh dan membantu emaknya masak di tungku, rumah kecil itu selalu memberikan kehangatan bagi Angga.  Setelah membantu emak memasak seadanya di dapur Angga membantu adik adiknya menyiapkan keperluan sekolah. Ketika memasuki kamar adiknya, sebenarnya ruangan ini tidak pantas di sebut kamar karena ukurannya yang kecil dan pengap. Angga melihat dua seragam sekolah yang tergantung dengan lusuh, warnanya sudah pudar, warna putih berubah menjadi warna kekuning kuningan begitupun setelannya warna merah berubah menjadi warna merah lusuh. Hati kecil Angga meringis melihat seragam itu, dalam hati Angga ingin sekali membelikan seram baru untuk kedua adiknya tapi apalah daya uang jajan Angga pun kadang tidak ada. “Dek bangun, mandi hari ini sekolah kan?. Angga mengelus ke dua kening adiknya sambil berbisik lembut, elusan seorang kakak yang sungguh menyayangi adik adiknya. “Siap kak” kompak kedua adiknya menyaut sambil bergegas bangun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi kecil.
            Jam menunjukan pukul 06.30 tikar pun sudah disiapkan Angga, emak dan ketiga adiknya sudah siap untuk sarapan. Menu yang mereka santap hanya nasi putih dan parutan kelapa yang di goreng tanpa minyak, dengan menu seadanya itu tetap terpancar rasa syukur dari muka muka itu. “Emak, Angga antar Malik dan Reno kesekolah dulu ya?” Angga pamitan ke emaknya untuk menghantarkan kedua adiknya berangkat sekolah. “Iya nak, hati hati”.
            Ketika Angga dan kedua adiknya berangkat kini di rumah tinggal Emak dan Rima si bungsu yang masih balita. “Angga, maafin emak, emak selalu meerepotkan mu, emak tidak bisa membuat anak anak emak bahagia, Angga seharusnya kamu juga bisa merasakan pendidikan selayaknya anak seusiamu nak, maafkan emak sekali lagi karena emak tidak bisa memberikan kamu pendidikan”. Emak mengucek matanya yang basah oleh air mata.
        Dalam perjalanan tiba-tiba Reno berceletuk “Ka, Reno malu dengan seragam Reno yang beda dari teman-teman Reno, lihat ka warna baju Reno, dan ka Malik berbeda dengan temanp-teman lain”. “sabar dek, nanti kakak belikan seragam baru buat kalian, sekarang kalian sekolah dulu yang rajin, kakak pulang dulu, sana kalian masuk kelas” “Siap kak”. Ketika Malik dan Reno melangklahkan kaki menuju kelasnya, Angga diam diam mengamati kedua adiknya itu. Terlihat me merah mata Angga. “Kakak janji dek bakal beliin seragam baru”. Angga pun pergi pulang.
        “Angga, kamu jagain Rima, Emak mau jualan dulu”. “Emak, biar Angga saja yang jualan, Emak kan lagi kurang enak badan”. Akhirnya Emak membiarkan Angga yang pergi jualan. Angga putus sekolah di jenjang SMP lantaran masalah ekonomi, dan Angga membantu emaknya jualan.
        Terik sang surya membakar kulit Angga, peluh pun menetes dari pori pori kulitnya. Angga mengusap dahinya, siang ini jualan sepi, Angga tetap melangkahkan kaki mengais rizki. Tiba-tiba mata Angga melihat kerumunan orang-orang dan terdengar teriakan “Tabrak lari, Tabrak Lari, Tabrak Lari”. Angga pun bergegas melihat kerumunan itu, Angga melihat seorang gadis se usianya berlumur darah tidak sadarkan diri. Dengan tangan gemetar Angga menyibak kerumunan dan mendekati gadis itu, tanpa tedeng aling-aling Angga menggendong gadis itu kemudian di bantu orang-orang di sekitar situ Angga menyetop mobil dan membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat. Pihak rumah sakit kemudia menelepon keluarga gadis itu, sebelumnya Angga menemukan dompet gadis itu dan memberikannya pada pihak rumah sakit, setelah orang tua gadis itu datang, Angga menceritakan kejadian yang dia tahu dan orang tua gadis itu mengucapkan terimakasih pada Annga karena telah menyelamatkan nyawa putri tercintanya. Dan Anggapun pamit pulang.
        Sesampainya di rumah Angga menceritakan kejadian tadi pada Emaknya, ada rasa bangga terpancar di muka Emaknya ketika Angga menceritakan kejadian itu. Anngapun melanjutkan cerita jualannya “Emak maaf ya jualaan hari ini lagi sepi jadi Angga hanya bisa bawa pulang 20 ribu saja” “Tidak papa nak, terimakasih sudah menjadi anak yang berbakti pada orang tua, terimakasih sudah membantu Emak dan maaf Emak tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kelurga kita. “Oh ya Mak, Ramadhan tinngal seminggu lagi, apakah kita punya persediaan beras yang cukup Mak”. Emak hanya bisa diam dan menitikan air matanya. “Beras sudah habis nak, tadi pagi sudah Emak masak, uang kita pun Cuma ada 20 ribu yang dari kamu tadi nak”. “Emak jangan sedih Rejeki di depan masih banyak lagi, biar nanti Annga mencari kerja sampingan” Emak memeluk Annga dengan erat “Terimakasih nak”. Dari ruang sebelah terdengar suara tangisan Rima adik bungsu Rangga. “Mak, apakah Rima sudah minum susu hari ini?.” “Rima belum minum susu, Emak beliin susu buat rima dulu ya, kamu jagain Rima dulu”.
        Hari terus berganti, kini tiba saatnya memasuki bulan Ramadhan hari pertama. Emak sudah menyiapkan makan sahur untuk anak-anaknya, setelah meyiapkan makanan Emak membangunkan anak-anaknya. Semuanya sudah berkumpul di atas tikar, menu sahur pertama hanya nasi temped an sayur bayam. Angga memimpin doa. Setelah selesai sahur menunggu sholat subuh dan sholat subuh berjamaah.
        Waktu terus berputar seperti biasa setiap hari Angga menghantar adik-adiknya ke sekolah, membantu Emak Jualan, kini Emak Jualan Takjil setelah jualan sehabis sholat Tarawih Annga menyambi menjadi guru ngaji sambil sekalian tadarus. Semua itu angga lakukan untuk bisa membeli seragam buat adik-adiknya dan membeli baju lebaran untuk ketiga adiknya. Setiap lebaran tiba jarang sekali keluarga Angga memakai baju baru dan salah satu mimpi Angga yang di atas adalah Angga ingin membelikan keluarganya baju baru saat lebaran tiba.
        Siang hari setelah jualan Angga melihat Emaknya batuk-batuk dengan kondisi badan yang lemah, Emak memang sekitar 3 bulan sakit-sakitan tapi berusaha tegar di depan anak-anaknya. Emak sempat berobat dengan kartu sehat layanan gratis, dokter menyarankan Emak untuk di rawat inap tapi Emak menolaknya karena faktor biaya dan tidak mau melihat anak-anaknya sedih. “Emak, Emak tidak papa, wajah emak pucat sekali, Emak istirahat saja dan membatalkan puasa saja, Emak minum obat ya, Angga belikan Emak obat” “Enggak papa nak, Emak hanya kecapean, Emak istirahat aja, ini mumpung Rima lagi tidur Emak mau istirahat dulu” “Reno dan Malik kemana Mak?” “Tadi Reno dan Malik keluar main”. “Ya udah Angga pamit mencari Reno dan Malik, biar Emak istirahat”
        Angga melihat Reno dan Malik bermain dan mengobrol bareng teman-temanya. “Reno, Malik kalian sudah punya baju baru buat lebaran belum, Aku sudah beli tadi, bajunya bagus sekali” celetuk teman Rena dan Malik, Anggapun mendengarkan obrolan adik-adiknya bersama teman-temannya. “Iya nih, Hani juga sudah beli baju baru buat lebaran kemarin bareng Emak dan Bapak” sambung temannya yang lain “Ikhsan juga sudah beli lohh, malah Ikhsan beli 2 baju baru” “Atun juga sudah beli” menimpali seolah olah tidak mau kalah. Reno dan Malik hanya diam mereka saling bertatap. Reno dan Malik pun lupa kapan ia memakai baju baru saat lebaran. Kalo pun mereka memakai baju baru itu baju bekas pemberian tetangganya. Hati Angga menangis melihat semua itu. Anggapun menghampiri ke dua adiknya menyuruhnya untuk pulang. Sesampainya di rumah “Ka, Reno dan Malik mau baju baru” :Iya, nanti klo ada uang kakak belikan ka” “Janji ya ka” “Isyaallah, udah sana kalian mandi udah sore bentar lagi maghrib” . Angga masuk kamarnya dan membuka celengan yang selama ini iya isi. Isi celengan itu hanya 50 ribu tidak cukup untuk membelikan 3 potong baju baru untuk adik-adiknya di tambah lagi Angga ingin meberikan mukena dan sajadah untuk Emaknya. Lebaran tinggal seminggu lagi kini Angga giat bekerja walaupun dengan menahan rasa haus dan lapar.
        Ketika Angga sedang jualan tiba-tiba mobil mewah berhenti tepat di depannya dan keluarlah seorang bapak-bapak yang wajah nya tidak asing lagi, iya bapak-bapak itu adalah bapak yang anak nya pernah di tolong waktu itu, “Nak, kamu Angga bukan, yang pernah menolong puteri saya?” “Iya Pak” “Kamu jualan apa nak, kenapa gak sekolah” “Angga putus sekolah pak, Angga lebih memilih jualan membantu Emak” “Emang bapak kamu kemana nak?, bukankah mencari nafkah tugas bapakmu?” “Bapak meninggal 3 tahun yang lalu pak” “Kamu gak mau nak jualan dan tidak sekolah?” “Kenapa malu pak, demi Emak dan Adik-adik Angga mau ngapain aja asal mereka bahagia” Angga dan bapak itu mengobrol dan bapak itu membeli semua dagangan Angga. Bapak itu meminta alamat rumah Angga dan Anggapun mengasihnya.
        “Ibu-ibu tidak papa”, Angga kaget saat melihat ibunya terjatuh dengan badan gemetaran, seketika ibunya jatuh pingsan dan Angga panik, Rima pun menangis, Reno dan Malik menenangkan Rima. Angga meminta bantuan tetangganya dan membawa ibunya kepuskesmas. Dokter memanggil Angga “Nak ibu kamu harus di rawat kalo tidak keadaan ibu kamu semakin memburuk” Angga menangis, iya anak kecil itu menangis walaupun dia tegar. Kini Emak di rawat, Angga kecil bingung dengan biaya nya. Tiba-tiba datang dokter yang mukanya juga di kenal Angga. “Nak Angga jangan pikirin biaya ya, nanti biaya rumah sakit ini gratis buat ibu nak Angga” iya dokter itu adalah ibu dari gadis yang Angga pernah tolong.
        Angga menceritakan kehidupannya ke ibu gadis itu, Angga nangis saat cerita ingin membeli seragam dan baju-baju baru untuk adiknya, mukena dan sajadah baru untuk Emaknya. Tanpa sengaja ibu gadis itu pun menitikkan air mata dan memeluk Angga.
        Lebaran tinggal sehari lagi, mengingat cerita Angga ibu gadis itu pun bercerita kesuaminya. Ibu dan bapak gadis itu datang ke rumah Angga dan membelikan semua yang Angga inginkan. Pintu rumah terketuk Angga membukanya, Angga kaget dengan kehadiran ibu dan bapak gadis itu. Ibu dan bapak gadis itu memberikan semua yang Angga butuhkan. Anggapun bahagia. Dan tahu kah kamu setelah itu apa yang Angga rasakan Angga menangis tersedu sedu saat memberikan mukena dan sajadah pada ibunya yang masih dirawat di rumah sakit. Setelah Angga memberikan Mukena dan Sajadah ibunya berbisik “Nak tolong jaga dan rawat adik-adikmu” kemudia ibu Angga menutup mata untuk selama-lamanya.
        Kini Angga dan ketiga adiknya sempurna tidak memiliki orang tua, namun mereka di angkat menjadi anak dari ibu dan bapak gadis itu. Ibu dan bapak gadis itu memberikan Angga dan adik-adiknya kasih sayang yang tulus dan pendidikan. Kini Angga sudah sukses dan sudah menikah, Reno dan Malik baru lulus jenjang perguruan tinggi dan mereka berdua mendapatkan beasiswa ke jenjang pendidikan selanjutnya dan Rima masih kuliah sarjanya.

        Kembali ke kamar Angga dewasa, isakan tangis sendiri yang terdengar telinga sendiri membuyarkan bayangan betapa getir hidupnya waktu kecil. Dan isteri Angga memeluk erat Angga. Seberapa besar ujian kehidupan yang tuhan berikan jalani dengan ikhlas karena semua akan indah pada waktunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar