Senin, 23 April 2018

ANGGA

Angin terus berhembus , awan hitam terus bergejolak di angkasa seakan sudah ingin menjatuhkan butir-butir Kristal kehidupan. Jam menunjukan pukul 22.30 tapi mataku belum bisa terpejam, memori otakku terus berputar kebelakang membayangkan sosok wanita tangguh yang membesarkan aku dan ketiga adikku, wanita luar biasa tidak pernah mengenal kata lelah dalam hidupnya. Wanita yang berhasil menghantarkan ku seperti sekarang.
            Membayangkan getirnya kehidupan masa lalu ku kadang membuat aku tersentuh dengan perjuangan keluarga kecilku, keluarga tanpa nahkoda kehidupan. Sebagian orang mungkin akan melupakan kenangan pahit dalam hidupnya tapi aku tidak akan melupakan hal itu, Karena masa lalu itu akan selalu hidup dengan kita sampai kapanpun. Ada sebuah mimpi yang sederhana ketika aku duduk di bangku Smp, mimpi yang sederhana namun bagiku itu adalah mimpi yang begitu indah.
            Angga kecil sudah terbiasa merasakan kerasnya hidup, setiap jam 04.00 Angga sudah bangun mengerjakan sholat subuh dan membantu emaknya masak di tungku, rumah kecil itu selalu memberikan kehangatan bagi Angga.  Setelah membantu emak memasak seadanya di dapur Angga membantu adik adiknya menyiapkan keperluan sekolah. Ketika memasuki kamar adiknya, sebenarnya ruangan ini tidak pantas di sebut kamar karena ukurannya yang kecil dan pengap. Angga melihat dua seragam sekolah yang tergantung dengan lusuh, warnanya sudah pudar, warna putih berubah menjadi warna kekuning kuningan begitupun setelannya warna merah berubah menjadi warna merah lusuh. Hati kecil Angga meringis melihat seragam itu, dalam hati Angga ingin sekali membelikan seram baru untuk kedua adiknya tapi apalah daya uang jajan Angga pun kadang tidak ada. “Dek bangun, mandi hari ini sekolah kan?. Angga mengelus ke dua kening adiknya sambil berbisik lembut, elusan seorang kakak yang sungguh menyayangi adik adiknya. “Siap kak” kompak kedua adiknya menyaut sambil bergegas bangun dari tempat tidur menuju ke kamar mandi kecil.
            Jam menunjukan pukul 06.30 tikar pun sudah disiapkan Angga, emak dan ketiga adiknya sudah siap untuk sarapan. Menu yang mereka santap hanya nasi putih dan parutan kelapa yang di goreng tanpa minyak, dengan menu seadanya itu tetap terpancar rasa syukur dari muka muka itu. “Emak, Angga antar Malik dan Reno kesekolah dulu ya?” Angga pamitan ke emaknya untuk menghantarkan kedua adiknya berangkat sekolah. “Iya nak, hati hati”.
            Ketika Angga dan kedua adiknya berangkat kini di rumah tinggal Emak dan Rima si bungsu yang masih balita. “Angga, maafin emak, emak selalu meerepotkan mu, emak tidak bisa membuat anak anak emak bahagia, Angga seharusnya kamu juga bisa merasakan pendidikan selayaknya anak seusiamu nak, maafkan emak sekali lagi karena emak tidak bisa memberikan kamu pendidikan”. Emak mengucek matanya yang basah oleh air mata.
        Dalam perjalanan tiba-tiba Reno berceletuk “Ka, Reno malu dengan seragam Reno yang beda dari teman-teman Reno, lihat ka warna baju Reno, dan ka Malik berbeda dengan temanp-teman lain”. “sabar dek, nanti kakak belikan seragam baru buat kalian, sekarang kalian sekolah dulu yang rajin, kakak pulang dulu, sana kalian masuk kelas” “Siap kak”. Ketika Malik dan Reno melangklahkan kaki menuju kelasnya, Angga diam diam mengamati kedua adiknya itu. Terlihat me merah mata Angga. “Kakak janji dek bakal beliin seragam baru”. Angga pun pergi pulang.
        “Angga, kamu jagain Rima, Emak mau jualan dulu”. “Emak, biar Angga saja yang jualan, Emak kan lagi kurang enak badan”. Akhirnya Emak membiarkan Angga yang pergi jualan. Angga putus sekolah di jenjang SMP lantaran masalah ekonomi, dan Angga membantu emaknya jualan.
        Terik sang surya membakar kulit Angga, peluh pun menetes dari pori pori kulitnya. Angga mengusap dahinya, siang ini jualan sepi, Angga tetap melangkahkan kaki mengais rizki. Tiba-tiba mata Angga melihat kerumunan orang-orang dan terdengar teriakan “Tabrak lari, Tabrak Lari, Tabrak Lari”. Angga pun bergegas melihat kerumunan itu, Angga melihat seorang gadis se usianya berlumur darah tidak sadarkan diri. Dengan tangan gemetar Angga menyibak kerumunan dan mendekati gadis itu, tanpa tedeng aling-aling Angga menggendong gadis itu kemudian di bantu orang-orang di sekitar situ Angga menyetop mobil dan membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat. Pihak rumah sakit kemudia menelepon keluarga gadis itu, sebelumnya Angga menemukan dompet gadis itu dan memberikannya pada pihak rumah sakit, setelah orang tua gadis itu datang, Angga menceritakan kejadian yang dia tahu dan orang tua gadis itu mengucapkan terimakasih pada Annga karena telah menyelamatkan nyawa putri tercintanya. Dan Anggapun pamit pulang.
        Sesampainya di rumah Angga menceritakan kejadian tadi pada Emaknya, ada rasa bangga terpancar di muka Emaknya ketika Angga menceritakan kejadian itu. Anngapun melanjutkan cerita jualannya “Emak maaf ya jualaan hari ini lagi sepi jadi Angga hanya bisa bawa pulang 20 ribu saja” “Tidak papa nak, terimakasih sudah menjadi anak yang berbakti pada orang tua, terimakasih sudah membantu Emak dan maaf Emak tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kelurga kita. “Oh ya Mak, Ramadhan tinngal seminggu lagi, apakah kita punya persediaan beras yang cukup Mak”. Emak hanya bisa diam dan menitikan air matanya. “Beras sudah habis nak, tadi pagi sudah Emak masak, uang kita pun Cuma ada 20 ribu yang dari kamu tadi nak”. “Emak jangan sedih Rejeki di depan masih banyak lagi, biar nanti Annga mencari kerja sampingan” Emak memeluk Annga dengan erat “Terimakasih nak”. Dari ruang sebelah terdengar suara tangisan Rima adik bungsu Rangga. “Mak, apakah Rima sudah minum susu hari ini?.” “Rima belum minum susu, Emak beliin susu buat rima dulu ya, kamu jagain Rima dulu”.
        Hari terus berganti, kini tiba saatnya memasuki bulan Ramadhan hari pertama. Emak sudah menyiapkan makan sahur untuk anak-anaknya, setelah meyiapkan makanan Emak membangunkan anak-anaknya. Semuanya sudah berkumpul di atas tikar, menu sahur pertama hanya nasi temped an sayur bayam. Angga memimpin doa. Setelah selesai sahur menunggu sholat subuh dan sholat subuh berjamaah.
        Waktu terus berputar seperti biasa setiap hari Angga menghantar adik-adiknya ke sekolah, membantu Emak Jualan, kini Emak Jualan Takjil setelah jualan sehabis sholat Tarawih Annga menyambi menjadi guru ngaji sambil sekalian tadarus. Semua itu angga lakukan untuk bisa membeli seragam buat adik-adiknya dan membeli baju lebaran untuk ketiga adiknya. Setiap lebaran tiba jarang sekali keluarga Angga memakai baju baru dan salah satu mimpi Angga yang di atas adalah Angga ingin membelikan keluarganya baju baru saat lebaran tiba.
        Siang hari setelah jualan Angga melihat Emaknya batuk-batuk dengan kondisi badan yang lemah, Emak memang sekitar 3 bulan sakit-sakitan tapi berusaha tegar di depan anak-anaknya. Emak sempat berobat dengan kartu sehat layanan gratis, dokter menyarankan Emak untuk di rawat inap tapi Emak menolaknya karena faktor biaya dan tidak mau melihat anak-anaknya sedih. “Emak, Emak tidak papa, wajah emak pucat sekali, Emak istirahat saja dan membatalkan puasa saja, Emak minum obat ya, Angga belikan Emak obat” “Enggak papa nak, Emak hanya kecapean, Emak istirahat aja, ini mumpung Rima lagi tidur Emak mau istirahat dulu” “Reno dan Malik kemana Mak?” “Tadi Reno dan Malik keluar main”. “Ya udah Angga pamit mencari Reno dan Malik, biar Emak istirahat”
        Angga melihat Reno dan Malik bermain dan mengobrol bareng teman-temanya. “Reno, Malik kalian sudah punya baju baru buat lebaran belum, Aku sudah beli tadi, bajunya bagus sekali” celetuk teman Rena dan Malik, Anggapun mendengarkan obrolan adik-adiknya bersama teman-temannya. “Iya nih, Hani juga sudah beli baju baru buat lebaran kemarin bareng Emak dan Bapak” sambung temannya yang lain “Ikhsan juga sudah beli lohh, malah Ikhsan beli 2 baju baru” “Atun juga sudah beli” menimpali seolah olah tidak mau kalah. Reno dan Malik hanya diam mereka saling bertatap. Reno dan Malik pun lupa kapan ia memakai baju baru saat lebaran. Kalo pun mereka memakai baju baru itu baju bekas pemberian tetangganya. Hati Angga menangis melihat semua itu. Anggapun menghampiri ke dua adiknya menyuruhnya untuk pulang. Sesampainya di rumah “Ka, Reno dan Malik mau baju baru” :Iya, nanti klo ada uang kakak belikan ka” “Janji ya ka” “Isyaallah, udah sana kalian mandi udah sore bentar lagi maghrib” . Angga masuk kamarnya dan membuka celengan yang selama ini iya isi. Isi celengan itu hanya 50 ribu tidak cukup untuk membelikan 3 potong baju baru untuk adik-adiknya di tambah lagi Angga ingin meberikan mukena dan sajadah untuk Emaknya. Lebaran tinggal seminggu lagi kini Angga giat bekerja walaupun dengan menahan rasa haus dan lapar.
        Ketika Angga sedang jualan tiba-tiba mobil mewah berhenti tepat di depannya dan keluarlah seorang bapak-bapak yang wajah nya tidak asing lagi, iya bapak-bapak itu adalah bapak yang anak nya pernah di tolong waktu itu, “Nak, kamu Angga bukan, yang pernah menolong puteri saya?” “Iya Pak” “Kamu jualan apa nak, kenapa gak sekolah” “Angga putus sekolah pak, Angga lebih memilih jualan membantu Emak” “Emang bapak kamu kemana nak?, bukankah mencari nafkah tugas bapakmu?” “Bapak meninggal 3 tahun yang lalu pak” “Kamu gak mau nak jualan dan tidak sekolah?” “Kenapa malu pak, demi Emak dan Adik-adik Angga mau ngapain aja asal mereka bahagia” Angga dan bapak itu mengobrol dan bapak itu membeli semua dagangan Angga. Bapak itu meminta alamat rumah Angga dan Anggapun mengasihnya.
        “Ibu-ibu tidak papa”, Angga kaget saat melihat ibunya terjatuh dengan badan gemetaran, seketika ibunya jatuh pingsan dan Angga panik, Rima pun menangis, Reno dan Malik menenangkan Rima. Angga meminta bantuan tetangganya dan membawa ibunya kepuskesmas. Dokter memanggil Angga “Nak ibu kamu harus di rawat kalo tidak keadaan ibu kamu semakin memburuk” Angga menangis, iya anak kecil itu menangis walaupun dia tegar. Kini Emak di rawat, Angga kecil bingung dengan biaya nya. Tiba-tiba datang dokter yang mukanya juga di kenal Angga. “Nak Angga jangan pikirin biaya ya, nanti biaya rumah sakit ini gratis buat ibu nak Angga” iya dokter itu adalah ibu dari gadis yang Angga pernah tolong.
        Angga menceritakan kehidupannya ke ibu gadis itu, Angga nangis saat cerita ingin membeli seragam dan baju-baju baru untuk adiknya, mukena dan sajadah baru untuk Emaknya. Tanpa sengaja ibu gadis itu pun menitikkan air mata dan memeluk Angga.
        Lebaran tinggal sehari lagi, mengingat cerita Angga ibu gadis itu pun bercerita kesuaminya. Ibu dan bapak gadis itu datang ke rumah Angga dan membelikan semua yang Angga inginkan. Pintu rumah terketuk Angga membukanya, Angga kaget dengan kehadiran ibu dan bapak gadis itu. Ibu dan bapak gadis itu memberikan semua yang Angga butuhkan. Anggapun bahagia. Dan tahu kah kamu setelah itu apa yang Angga rasakan Angga menangis tersedu sedu saat memberikan mukena dan sajadah pada ibunya yang masih dirawat di rumah sakit. Setelah Angga memberikan Mukena dan Sajadah ibunya berbisik “Nak tolong jaga dan rawat adik-adikmu” kemudia ibu Angga menutup mata untuk selama-lamanya.
        Kini Angga dan ketiga adiknya sempurna tidak memiliki orang tua, namun mereka di angkat menjadi anak dari ibu dan bapak gadis itu. Ibu dan bapak gadis itu memberikan Angga dan adik-adiknya kasih sayang yang tulus dan pendidikan. Kini Angga sudah sukses dan sudah menikah, Reno dan Malik baru lulus jenjang perguruan tinggi dan mereka berdua mendapatkan beasiswa ke jenjang pendidikan selanjutnya dan Rima masih kuliah sarjanya.

        Kembali ke kamar Angga dewasa, isakan tangis sendiri yang terdengar telinga sendiri membuyarkan bayangan betapa getir hidupnya waktu kecil. Dan isteri Angga memeluk erat Angga. Seberapa besar ujian kehidupan yang tuhan berikan jalani dengan ikhlas karena semua akan indah pada waktunya.

Senin, 20 November 2017

CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR



Langit nan indah dengan taburan bintang yang menyala berkelip-kelip di tambah dengan rembulan yang bersinar agung di tengah kerumunan bintang, aku begitu menyukai malam seperti ini, tidak ada bosan-bosannya memandangi rembulan yg begitu indah membuat hati tenang dan mampu menyingkirkan sejenak beban kehidupan.
Di usiaku yang menginjak dua puluh lima tahun aku masih belum memiliki pendamping hidup, aku terlalu asik dengan kehidupan karirku, walaupun aku tahu banyak laki-laki yang menginginkan aku menjadi pacarnya namun entah kenapa belum ada laki-laki yang menarik di mata dan hatiku. Di suatu malam aku tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuaku yang membahas jodoh untuk ku, aku kira orang tuaku akan segera mencarikan aku pendamping hidup.
“Nak, usiamu sudah menginjak 25 tahun, tapi kenapa mamah belum pernah melihat kamu pacaran?” entah ada angin dari mana mamahku melontarkan pertanyaan itu. “Mah, aku belum mau menikah cepat-cepat, aku masih ingin berkarir dulu mah”, jawabku dengan halus, “Nak, karirmu sudah cemerlang kini sudah saatnya kamu menentukan siapa yang pantas mendampingimu”, “Entahlah mah belum ada seorang laki-laki yang mampu menggerakan hatiku”, “Papahmu punya kenalan, anak seorang rekan bisnisnya, dia lulusan luar negeri dan karirnya sudah mapan, cocok menjadi pasangan hidupmu”, “Mamahku sayang, ini bukan zaman siti nurbaya, nanti kalo sudah ada yang klik di hati, aku janji akan segera mengenalkannya pada mamah dan papah”. Mamah menutup obrolannya denganku.
Waktu menunjukan pukul 11.30 jam istirahat kantor telah tiba seperti biasa aku dan ke dua sahabat kantorku ngopi santai di sebuah cafee  dekat kantor, cafee dengan nuansa jawa dan sedikit modern menjadi cafee favorit kami ber tiga. Sambil menunggu pesanan datang tiba-tiba Vio membuka obrolan tentang cowo, “Arin, tahu gak aku sedang dekat dengan cowo super keren dari kantor sebelah” celetuk Vio “Vio, kamu cepat banget move on dari cowo, barusan 1 minggu yang lalu kamu putus dari Dion, masa sekarang kamu sudah mau pacaran lagi” tutur ku yang ogah banget bahas cowo. “Biasa lah Rin, si Vio kan sebelum putus sudah punya draf cowo-cowo yang bakal di deketin” sambung Ian “Yehh, apaan sih Ian, aku itu sebagai wanita harus bisa cepat-cepat move on dari yang namanya mantan” balas Vio dan akhirnya Vio dan Ian berdebat argument tentang Move On, aku hanya bisa mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Hari minggu merupakan hari yang sangat aku tunggu-tunggu hari dimana aku bisa melepas sejenak kesibukan kantor, minggu ini kami ber tiga aku, Vio dan Ian berencana nonton bareng kebutulan ada film hero wonder women yang lagi ngehitz tayang, setelah nonton biasanya kami nongki-nongki sambil menikmati kopi panas. Di sebuah kedai cantik nan romantis mataku menatap sesosok laki-laki bertubuh tinggi, badan yang kekar serta wajah yang tampan duduk sendirian di sebuah kursi di sudut kedai sambil sesekali menyeruput kopinya. Aku sampai tidak sadar melihat senyumnya yang manis sehingga aku ketawa sendiri dan akhirnya Vio dan Ian membuyarkan lamunan ku. “Hy, lagi melihat apaan sih pakai senyum-senyum sendiri” tanya Ian dengan ekspresi menggoda, “Pasti sedang jatuh cinta nih” sambung Vio, “Vio apaan sih, aku gak ngerti maksudmu” “Wah kelamaan jomblo nih jadi gak ngerti jatuh cinta” jawab Vio, “Benar tuh Vio kelamaan jomblo, bentar-bentar, sejak aku dan Vio berteman sama kamu, kita jarang banget melihat kamu pergi sama cowo atau melihat kamu pacaran” sambung Ian. Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan pipiku merah padam. “Ian, aku tahu nih Arin sedang lihatin siapa” celetuk Vio sambil kedip manjah ke arah cowo yang sedang aku lihatin “Ohh jadi dari tadi Arin lihatin cowo di sudut sana, emmm lumayan cakep lah Vi” jawab Ian “Iya yan lumayan cakep, pantes aja dari tadi Arin lihatin terus, apa jangan-jangan Arin jatuh cinta pada pandangan pertama” Goda Vio kepadaku, jujur aku nambah malu nih, “Gak pp Vi, lagian Arin kan jarang pacaran otomatis jarang merasakan jatuh cinta” “Bener banget Ian, duhh aku sebagai sahabat bangga nih melihat sahabatku jatuh cinta, udah jangan di lihatin terus mending kamu samperin saja” Vio mendorongku suruh menyemperin cowok itu “apaan sih Vi, malu tau cewek nyamperin duluan cowo” “halah udah biasa kali Rin”sambung Ian.
Rembulan kembali bersinar memperlihatkan kegagahannya. Arin menatap rembulan dengan senyum-senyum sendiri. “Tuhan, apakah ini yang namanya jatuh cinta?” tanpa di sadari Arin bergumam sendirian. “Kalo ini yang namanya jatuh cinta, lantas apa ini juga yang namanya cinta pada pandangan pertama”. Tanpa di sadari jam telah menunjukan pukul 22.00, Arin masih terjaga. Jatuh cinta memang membuat orang lupa dengan segalanya, membuat orang seperti gila, senyum sendiri, bergumam sendiri.
“Selamat pagi mah” ucapan wajib Arin ke mamahnya ketika berada di ruang makan. “Pagi juga sayang, sebelum ke kantor sarapan dulu, mamah sudah siapkan nasi goreng kesukaan kamu” “Siap mamah sayang” “Anak mamah kayaknya lagi bahagia banget nih, dari tadi senyum-senyum sendiri” Arin ketahuan senyum-senyum sendiri. “Wahh apa jangan-jangan anak Papah lagi jatuh cinta nih, senyumnya mirip sama Papah dulu waktu jatuh cinta sama Mamah” goda Papah Arin. “Yehh, gak papah Arin gak lagi jatuh cinta” bantah Arin “ “Jatuh cinta juga gak papa kan anak mamah sudah besar dan mapan, cepat kenalin cowo yang membuat anak mamah jatuh cinta, kalo tidak cepat di kenalin nanti mamah akan jodohkan sama anak kenalan papah” paparan Mamah Arin semakin membuat Arin merasa tertindas. “Benar tuh kata mamah cepat kamu kenalin ke mamah dan papah siapa cowo yang berhasil mencuri hatimu”. Gubrak mengenalin cowo itu ke Mamah dan Papah, bagaimana caranya? Jangan kan mengenalin ke mamah papah, kenal dan tau namanya aja belum.
Beberapa minggu kemudian setelah aku lelah mencari dan membayangkan cowo itu.
Hari ini aku ada meeting bareng klien, meeting yang tidak akan aku lupakan sepanjang hidup, meeting yang berkesan. Di ruang meeting sudah kumpul beberapa orang tinggal menunggu Aku saja yang kebetulan telat datang, ketika aku memasuki ruang meeting mata ku menatap sesosok cowo yang berhasil membuatku senyum sendirian, sosok cowo yang diam-diam mencuri sepotong hatiku. Meeting pun selesai. Vio dan Ian menggoda ku agar jangan sampai terlewatkan kesempatan mengenal cowo itu, dengan malu-malu aku mendekatkan diri ke cowo itu, mengajaknya basa-basi dan entah ada keajaiban apa cowo itu mengajakku makan siang bareng. Jrenggg hatiku berasa melayang ketika cowo itu mengajakku makan siang.
Makan siang pertama sukses, aku jadi mengenali cowo itu yang ternyata namanya Fero Sebastian. Fero termasuk orang yang asik di ajak ngobrol walaupun baru pertama kali ketemu, orang yang humoris dan orang yang mampu membuatku merasa nyaman walaupun baru kenal. Hari terus berganti kini aku semakin dekat dengan Fero, kita ber dua sering jalan bareng, makan bareng. Dan tibalah saatnya momen yang aku tunggu-tunggu itu datang. Fero mengajakku Dinners bareng di sebuah cafee nan romantis. Fero memesan meja untuk dua orang, dengan hiasan lilin lilin dan bunga mawar, lampu cafee di seting seromantis mungkin dan seseorang menggesekkan biolanya menambah suasana romantis. “Arin walaupun aku belum lama mengenalmu, entah kenapa ada rasa ingin memilikimu menghinggap di hatiku, senyum indah dari bibirmu terlukis di langit-langit kamarku, wajahmu seperti abadi di ingatanku. Arin malam ini aku ingin memilikimu selamanya, maukah kamu menjadi istriku dan menjadin ibu dari anak-anaku nanti”. Aku menangis mendengarkan isi hati Fero, dia serius dengan ku, dia mengatakan menjadi istriku bukan pacarku. Aku juga menginnginkan Fero menjadi suamiku. “Fero, jujur sejak pertama kali aku melihatmu di kedai kopi, ada rasa bahagia hinggap di hatiku, entah kamu percaya atau tidak, setiap malam aku selalu melamuninmu, berharap besok bisa bertemu denganmu, aku juga mencarimu, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu. Jadi aku mau menikah denganmu”
“Cie-cie yang  baru pacaran, setelah bebera tahun jomblo”, goda Vio dan Ian. “Apaan sih, aku dan Fero tidak pacaran, kami berdua sepakat akan langsung menikah” jawabku dengan senyum manis “Apa? Langsung menikah?” tanya Vio dengan mata terbelalak “Sebegitu cintanya kamu pada Fero sehingga memutuskan langsung menikah” sambung Ian “Iya dong, jangan kayak Vio pacaran terus kapan nikahnya” goda Arin ke Vio.
Seperti biasa sebelum pergi ke kantor Arin menyempatkan diri untuk sarapan bareng keluarga. “Mah, Pah aku sudah punya calon suami, nanti akum au mengenalkannya pada mamah dan papah” Arin malu-malu mengutarakan isi hatinya “Calon suami? Bukannya selama ini kamu belum punya pacar?” tanya mamahnya dengan muka heran “Papah juga belum pernah melihatmu jalan bareng cowo selain Ian teman kantormu” sambung Papah. “Nanti malam akan Arin Kenalkan ke mamah dan papah, namanya Fero, sebenarnya aku dan Fero baru kenal beberapa bulan, tapi kita berdua sudah merasa dekat dan nyaman. Mamah dan Papah seringkan melihat Arin senyum-senyum sendiri nah cowo yang buat Arin Senyum sendiri itu Fero. Udah mah pah Arin berangkat kerja dulu nanti di sambung nanti malam sekalian ngobrol bareng orangnya”.
Ruang tamu jam menunjukkan pukul 19.00. aku, mamah dan papah sudah siap menunggu Fero datang, terdengar klakson mobil dari luar itu pasti mobil Fero. Pintu terketuk, langsung saja aku membuka pintu, sebelumnya aku sudah dandan secantik mungkin. Fero dan keluarganya datang. Fero kelihatan lebih ganteng dengan setelan Jas trendy nan santai. Setelah mereka masuk terjadilah obrolan hangat ke dua keluarga. Malam ini Fero melamarku.
Waktu terus berjalan. 1 bulan setelah proses lamaran kini tiba saatnya momen yang berharga dalam kehidupan ku terjadi, momen dimana aku dan Fero mengikat janji suci kita lewat pernikahan. Hari ini aku akan menikah. “Gak nyangka ya Arin yang jarang pacaran bahkan tidak pernah pacaran saja menikahnya duluan. Nah sedangkan aku yang sering pacaran gak nikah-nikah” Vio bergumam “Hehehe kamu pacaran nya gak serius Vi, kamu masih main-main hanya untuk Fun saja” Jawab Ian. “Bener tuh kata Ian, klo mau cepat menikah pacarannya yang serius dan cari pacar yang bisa berpikir dewasa jangan pacarannya sama brondong alay” Nasihat Arin. “Udah-udah jangan ada yang galau di hari pernikahanku. Semuanya harus bahagia” Arin menutup obrolannya. Dan kini bersiap-siap ke pelaminan karena Fero sudah menunggu.
“Arin sayang sebelum aku mengucap janji suci pernikahan izinkan aku mengucap janji kesetiaanku padamu. Arin kamu harus tau ini, aku mencintaimu seperti tubuhku, seperti mata yang selalu melihat, seperti telinga yang selalu mendengar, jantung yang selalu berdetak, dan hati yang selalu berkata. Aku mencintaimu seperti tubuhku yang selalu setia seperti jiwaku pada cintaku seperti cintaku pada kamu seperti hatiku yang selalu untukmu Arin sayang”. Aku menangis mendengar kalimat tulus dari hati Fero. “Fero sayang aku percaya itu. Aku juga akan setia kepadamu, dan kamu harus tahu Fero sayang. Setiaku padamu seperti air yang akan terus mengalir tidak akan berpaling tidak akan berubah sampai akhir. Fero jujur selama ini aku belum pernah jatuh cinta dan belum pernah pacaran. Kamu adalah laki-laki pertama dalam hidupku dan insyaallah laki-laki terakhir dalam hidupku juga”. “Arin sayang aku juga jujur sebelum kenal kamu aku tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan sama wanita manapun dan kamu wanita pertama yang aku cintai”. Akhirnya aku dan Fero resmi menikah dengan di dasari rasa Cinta dan janji Kesetiaan.
Dan aku pun kini hidup bahagia dengan suamiku tercinta.

Senin, 23 Oktober 2017

KU IZINKAN SUAMIKU MENIKAH LAGI



Kabut hitam semakin tebal minghias atap bumi, angin bertiup semakin kencang menghembuskan kesedihanku yang semakin mendalam. Hatiku hancur berkeping-keping, aku merasa tidak bisa menjadi perempuan sejati, perempuan yang mampu membahagiakan suami. Setelah lima tahun pernikahanku dengan mas Andra aku tidak bisa memberikan mas Andra keturunan, sedih rasanya aku gagal menjadi istri yang di inginkan oleh suami manapun. Walaupun mas Andra menerimaku apa adanya tanpa mengurangi kasih sayangnya padaku tapi aku merasa bersalah. Setiap malam aku selalu bersujud menghadap Sang Kuasa. “Ya Allah jika ini yang terbaik untuk suamiku aku akan merelakan suamiku menikah lagi dengan perempuan lain, karena aku tidak bisa memberikannya keturunan”. Alir mataku begitu deras membanjiri pipiku.
Mungkin suamiku tetap mencintaiku apa adanya walaupun aku tidak bisa memberikannya keturunan akan tetapi ibu mertuaku yang sepertinya mulai tidak menyukaiku. Ibu mertuaku begitu memperlihatkan ketidak sukanya kepadaku bahkan selalu menyindirku tentang keturunan dan poligami. Walaupun suamiku tetap menguatkanku agar tidak mengambil hati omongan ibunya namun tetap saja aku merasa sakit hati.
“Mas, apa mas tidak menyesal menikah denganku” suatu malam aku melontarkan kalimat itu. “Isteriku aku tidak pernah menyesal menikah dengamu, kamu wanita sholeha dan berbakti pada suami” jawab suamiku sambil membelai indah rambutku. “Walaupun aku tidak bisa memberikan keturunan?” tanyaku lebih lanjut. “Isteriku, soal keturunan kita serahkan semuanya pada Allah. Isteriku aku akan mencintaimu apa adanya” aku mulai meneteskan air mata “Maafkan aku mas, aku tidak bisa menjadi isteri yang sempurna, aku tidak bisa memberikan keturunan, tanpa kehadiran anak pernikahan terasa hambar mas” aku terisak mengucapkannya. “Isteriku, anak merupakan titipan Allah, jadi kita hanya bisa berdoa semoga Allah mempercayai kita sehingga kita di berikan keturunan, isteriku ini sudah malam lebih baik kita istirahat saja” suamiku menutup obrolan.
“Rima, kapan kamu akan hamil, usia pernikan mu sudah tidak muda lagi?” tiba-tiba ibu mertuaku berkata itu kepadaku. “Mamah, aku sudah berusaha untuk bisa hamil, tapi hasilnya belum terlihat”. Sakit rasanya ibu mertuaku berkata itu “Suami mu sudah sangat menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga kalian?”. “Iya mah, tapi keturunan datangnya dari Allah, mungkin Allah belum mengizinkan aku untuk mengandung” jawabku dengan suara tersekat.
“Yohan, mamah mau ngomong sebentar?” “Iya Mah, mau bahas apa?, aku lagi cape banget nih mah” “Ini soal Istrimu?” “Ada apa dengan Rima mah?” “Klo Rima belum bisa mengasih mamah cucu, mending kamu cari istri lagi, mamah sudah tua keinginan mamah hanya ingin menggendong cucu, mamah punya kenalan anak teman mamah?. “Mamah ngomong apa? Yohan tidak negerti. Emmm Mamah mau Yohan mempoligami Rima?” “Iya, agama kita membolehkan poligami, mamah pikir kamu akan mampu berpoligami” “Mamah, Yohan sangat sayang pada Rima. Yohan sudah berjanji apapun keadaanya aku dan Rima akan selalu bersama. Piligami hanya akan menyakiti hati Rima dan hatiku juga mah. “Tapi mamah mau punya cucu dan mamah sudah memutuskan kamu harus nikah lagi, kamu harus segera membicarakan hal ini pada Rima, klo tidak biar mamah saja yang akan ngomong”. “Mah, Yohan tidak akan berpoligami. Lagian klo Rima tidak bisa memberikan mamah cucu, kita kan bisa mengadopsi anak dari Rumah sakit atau panti asuhan” “Mamah tidak mau punya cucu yang bukan darah daging anak mamah sendiri” “Sudah mah, Yohan cape, mau istirahat dulu”. Aku secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan itu, sakit hati ini mendengarnya, tapi apa boleh buat yang di omongin mamah ada benarnya juga, aku harus mengiklaskan mas Yohan menikah lagi, demi kebahagian Mamah dan mas Yohan. Jam menunjukan pukul 02.00 aku terbangun dari tidurku dan teringat obrolan mamah dan suamiku, aku tidak tenang dengan semua ini. Sholat ya sholat malam mungkin akan membuatku lebih tenang. Dalam heningnya malam aku bersimpu pada Sang Pencipta “Ya Allah, hanya kepadamu hamba meminta dan memohon, ya Allah hamba tahu hamba tidak bisa memberikan keturunan untuk suami dan mertua hamba, aku ikhlas dengan ini semua ya Allah. Ya Allah, jika poligami akan menyelesaikan sumua masalah ini hamba akan Ikhlas memberikan suami hamba kepada wanita lain walaupun itu sakit. Hamba iklhas dengan semua ini ya Allah”.
Siang yang cerah tapi tidak dengan hatiku tiba-tiba ibu mertuaku bicara “Rima, apa Yohan sudah berbicara dengan mu” “Maaf mah, bicara apa?” aku sudah tahu arah pembicaraan ini semua “Tentang poligami, mamah akan menjodohkan suamimu dengan perempuan lain, mamah harap kamu ikhlas dan mendukung. Kamu tahu kan alasannya apa”. Sakit dan sedih mendengarnya, hatiku hancur berkeping-keping tak terasa air mataku begitu deras membanjiri pipiku. “Mas Yohan belum bicara tentang itu mah, aku ngerti mah, insyaallah jika mas Yohan bicara aku akan siap dan ikhlas mendengarnya”. “Minggu depan mamah akan  mengenalkan wanita yang akan menikah dengan suamimu. Tenang saja kamu jangan kwatir wanita ini wanita baik-baik dan muslimah”. Sebaik apapun wanita itu pasti akan membuat hatiku sakit, perempuan mana yang Iklhas suaminya berbagi ranjang. Tapi aku akan berusaha ikhlas demi Syurga-NYA.
Setelah ibu mertuaku berbicara itu, setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak, aku gelisah memikirkan semuanya, ku pandangi wajah suamiku ketika dia tidur, ada rasa kasihan dengannya, seharusnya dia sudah menjadi sosok ayah bagi anak-anaknya. Suamiku sampai saat ini belum bicara tentang poligami, mungkin dia tidak mau menyakiti hatiku. Apa aku yang harus berbicara duluan, tapi aku takut dia akan marah dengan apa yang aku bicarakan. Ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk bicara duluan.
Satu hari sebelum ibu mertuaku mengenalkan wanita lain dan suamiku belum bicara apapun dan aku yang harus bicara dengan suamiku. Ini waktu yang pas untuk bicara, kubuatkan suamiku secangkir kopi, sambil duduk santai di teras rumah menikmati indahnya senja aku memulai obrolan pahit itu. “Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan” “Iya sayang, mau bicara apa?” “Tentang masa depan mu mas, masa depan pernikahan kita” “Ada apa dengan masadepanku sayang? Ada apa dengan pernikahan kita?” “Mas, aku pernah mendengar mamah bicara pada mas tentang keturunan, dan mamah sudah bicara dengan ku tentang solusinya” air mataku mulai terurai mengalir, tenggorokanku terasa berat tercekat “Apa maksudmu sayang, mamah bicara apa padamu?” “Mas, jika ini yang terbaik untuk kita semua saya Ikhlas mas menikah lagi” aku mengeluarkan kalimat itu dengan terbata-bata di iringi dengan sesenggukanku “Apa maksudmu sayang?. Cuma kamu yang aku cintai istriku, apapun yang terjadi aku tidak akan menyakitimu” “Mas, mamah mau menggendong cucu, dan aku tidak bisa memberikan mamah cucu, aku ikhlas mas menikah lagi, aku ikhlas di poligami” “Sayang, stop jangan bahas ini” mas Yohan memelukku dengan erat “Mas, maaf aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna buat mas. Mas tolong setujui permintaanku ini” “Sayang ini bukan permintaanmu, ini permintaan mamah. Sayang wanita mana yang tidak akan sakit hati melihat suaminya menikah lagi” aku terisak-isak mendengar jawaban suamiku “Mas, aku ikhlas, besok wanita yang akan menikah dengan mas akan datang kesini, mamah sudah menyiapkan ini semua, sekali lagi aku minta maaf mas, tidak bisa menjadi wanita sempurna. Mas harus menikah lagi, demi keturunan mas, aku ikhlas mas” aku semakin terisak, suamiku semakin erat memelukku, dia tidak bisa ngomong apapun, kini yang terdengar hanya isak tangis kami berdua.
Hari itu telah datang, hari dimana hatiku berkeping-keping saat melihat Mas Yohan berjabat tangan dengan calon istrinya. Aku bahkan tidak tahan melihat ini semua, namun aku harus tegar dengan ini semua, aku berusaha untuk tidak menangis agar mas Yohan makin yakin dengan keputusan ini. Aku berhasil menahan air mataku tapi aku melihat mas Yohan yang tidak kuat membendung air matanya, mas Yohan menjatuhkan air matanya ketika ia menyetujui pernikahan keduanya, mas Yohan menatapku dengan tatapan tidak berdaya dan aku berusaha tersenyum. Setelah selesai aku langsung meninggalkan ruang tamu. Aku menangis setelah masuk kamar, mas Yohan segera menyusulku, dia memelukku dan jatuh bersimpu di kakiku, mas Yohan meminta maaf padaku, aku tidak tega melihatnya seperti ini, aku membangunkan mas Yohan, mas Yohan kembali memelukku dengan erat dan aku berbisik “Mas, aku Ikhlas, percayalah padaku”.
Dua bulan setelah itu kini tiba saatnya mas Yohan menikah dengan Azizah wanita yang akan menjadi istri ke dua suamiku. Aku menyiapkan setelan Jas untuk mas Yohan, hari ini aku harus tersenyum tidak boleh ada tangis dalam mataku, sebelum ijab kobul mas Yohan meminta maaf kepadaku lagi. Dengan sekali nafas akhirnya resmi aku di poligami.
“Mas, Rima minta sayangi Azizah seperti mas menyayangi aku, Mas harus berlaku adil dan jangan pernah mas sakiti Azizah” “Iya sayang aku janji akan berlaku adil”
Waktu begitu cepat bergerak, kini sudah 1 tahun mas Yohan membagi cintanya, mas Yohan menepati janjinya untuk berlaku adil, kini kita bertiga hidup bahagia. Azizah melahirkan anak pertamanya senang rasanya mendengar tangis bayi di pernikahan ini, walaupun bayi itu bukan lahir dari rahimku tapi aku sangat menyayanginya, kini mas Yohan resmi menjadi sosok ayah dan ibu mertuaku kini menjadi nenek. Seberat apapun cobaan dalam hidup klo kita jalani dengan ikhlas dan menjadikannya sebagai ibadah pasti akan bahagia.