Senin, 20 November 2017

CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR



Langit nan indah dengan taburan bintang yang menyala berkelip-kelip di tambah dengan rembulan yang bersinar agung di tengah kerumunan bintang, aku begitu menyukai malam seperti ini, tidak ada bosan-bosannya memandangi rembulan yg begitu indah membuat hati tenang dan mampu menyingkirkan sejenak beban kehidupan.
Di usiaku yang menginjak dua puluh lima tahun aku masih belum memiliki pendamping hidup, aku terlalu asik dengan kehidupan karirku, walaupun aku tahu banyak laki-laki yang menginginkan aku menjadi pacarnya namun entah kenapa belum ada laki-laki yang menarik di mata dan hatiku. Di suatu malam aku tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuaku yang membahas jodoh untuk ku, aku kira orang tuaku akan segera mencarikan aku pendamping hidup.
“Nak, usiamu sudah menginjak 25 tahun, tapi kenapa mamah belum pernah melihat kamu pacaran?” entah ada angin dari mana mamahku melontarkan pertanyaan itu. “Mah, aku belum mau menikah cepat-cepat, aku masih ingin berkarir dulu mah”, jawabku dengan halus, “Nak, karirmu sudah cemerlang kini sudah saatnya kamu menentukan siapa yang pantas mendampingimu”, “Entahlah mah belum ada seorang laki-laki yang mampu menggerakan hatiku”, “Papahmu punya kenalan, anak seorang rekan bisnisnya, dia lulusan luar negeri dan karirnya sudah mapan, cocok menjadi pasangan hidupmu”, “Mamahku sayang, ini bukan zaman siti nurbaya, nanti kalo sudah ada yang klik di hati, aku janji akan segera mengenalkannya pada mamah dan papah”. Mamah menutup obrolannya denganku.
Waktu menunjukan pukul 11.30 jam istirahat kantor telah tiba seperti biasa aku dan ke dua sahabat kantorku ngopi santai di sebuah cafee  dekat kantor, cafee dengan nuansa jawa dan sedikit modern menjadi cafee favorit kami ber tiga. Sambil menunggu pesanan datang tiba-tiba Vio membuka obrolan tentang cowo, “Arin, tahu gak aku sedang dekat dengan cowo super keren dari kantor sebelah” celetuk Vio “Vio, kamu cepat banget move on dari cowo, barusan 1 minggu yang lalu kamu putus dari Dion, masa sekarang kamu sudah mau pacaran lagi” tutur ku yang ogah banget bahas cowo. “Biasa lah Rin, si Vio kan sebelum putus sudah punya draf cowo-cowo yang bakal di deketin” sambung Ian “Yehh, apaan sih Ian, aku itu sebagai wanita harus bisa cepat-cepat move on dari yang namanya mantan” balas Vio dan akhirnya Vio dan Ian berdebat argument tentang Move On, aku hanya bisa mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Hari minggu merupakan hari yang sangat aku tunggu-tunggu hari dimana aku bisa melepas sejenak kesibukan kantor, minggu ini kami ber tiga aku, Vio dan Ian berencana nonton bareng kebutulan ada film hero wonder women yang lagi ngehitz tayang, setelah nonton biasanya kami nongki-nongki sambil menikmati kopi panas. Di sebuah kedai cantik nan romantis mataku menatap sesosok laki-laki bertubuh tinggi, badan yang kekar serta wajah yang tampan duduk sendirian di sebuah kursi di sudut kedai sambil sesekali menyeruput kopinya. Aku sampai tidak sadar melihat senyumnya yang manis sehingga aku ketawa sendiri dan akhirnya Vio dan Ian membuyarkan lamunan ku. “Hy, lagi melihat apaan sih pakai senyum-senyum sendiri” tanya Ian dengan ekspresi menggoda, “Pasti sedang jatuh cinta nih” sambung Vio, “Vio apaan sih, aku gak ngerti maksudmu” “Wah kelamaan jomblo nih jadi gak ngerti jatuh cinta” jawab Vio, “Benar tuh Vio kelamaan jomblo, bentar-bentar, sejak aku dan Vio berteman sama kamu, kita jarang banget melihat kamu pergi sama cowo atau melihat kamu pacaran” sambung Ian. Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan pipiku merah padam. “Ian, aku tahu nih Arin sedang lihatin siapa” celetuk Vio sambil kedip manjah ke arah cowo yang sedang aku lihatin “Ohh jadi dari tadi Arin lihatin cowo di sudut sana, emmm lumayan cakep lah Vi” jawab Ian “Iya yan lumayan cakep, pantes aja dari tadi Arin lihatin terus, apa jangan-jangan Arin jatuh cinta pada pandangan pertama” Goda Vio kepadaku, jujur aku nambah malu nih, “Gak pp Vi, lagian Arin kan jarang pacaran otomatis jarang merasakan jatuh cinta” “Bener banget Ian, duhh aku sebagai sahabat bangga nih melihat sahabatku jatuh cinta, udah jangan di lihatin terus mending kamu samperin saja” Vio mendorongku suruh menyemperin cowok itu “apaan sih Vi, malu tau cewek nyamperin duluan cowo” “halah udah biasa kali Rin”sambung Ian.
Rembulan kembali bersinar memperlihatkan kegagahannya. Arin menatap rembulan dengan senyum-senyum sendiri. “Tuhan, apakah ini yang namanya jatuh cinta?” tanpa di sadari Arin bergumam sendirian. “Kalo ini yang namanya jatuh cinta, lantas apa ini juga yang namanya cinta pada pandangan pertama”. Tanpa di sadari jam telah menunjukan pukul 22.00, Arin masih terjaga. Jatuh cinta memang membuat orang lupa dengan segalanya, membuat orang seperti gila, senyum sendiri, bergumam sendiri.
“Selamat pagi mah” ucapan wajib Arin ke mamahnya ketika berada di ruang makan. “Pagi juga sayang, sebelum ke kantor sarapan dulu, mamah sudah siapkan nasi goreng kesukaan kamu” “Siap mamah sayang” “Anak mamah kayaknya lagi bahagia banget nih, dari tadi senyum-senyum sendiri” Arin ketahuan senyum-senyum sendiri. “Wahh apa jangan-jangan anak Papah lagi jatuh cinta nih, senyumnya mirip sama Papah dulu waktu jatuh cinta sama Mamah” goda Papah Arin. “Yehh, gak papah Arin gak lagi jatuh cinta” bantah Arin “ “Jatuh cinta juga gak papa kan anak mamah sudah besar dan mapan, cepat kenalin cowo yang membuat anak mamah jatuh cinta, kalo tidak cepat di kenalin nanti mamah akan jodohkan sama anak kenalan papah” paparan Mamah Arin semakin membuat Arin merasa tertindas. “Benar tuh kata mamah cepat kamu kenalin ke mamah dan papah siapa cowo yang berhasil mencuri hatimu”. Gubrak mengenalin cowo itu ke Mamah dan Papah, bagaimana caranya? Jangan kan mengenalin ke mamah papah, kenal dan tau namanya aja belum.
Beberapa minggu kemudian setelah aku lelah mencari dan membayangkan cowo itu.
Hari ini aku ada meeting bareng klien, meeting yang tidak akan aku lupakan sepanjang hidup, meeting yang berkesan. Di ruang meeting sudah kumpul beberapa orang tinggal menunggu Aku saja yang kebetulan telat datang, ketika aku memasuki ruang meeting mata ku menatap sesosok cowo yang berhasil membuatku senyum sendirian, sosok cowo yang diam-diam mencuri sepotong hatiku. Meeting pun selesai. Vio dan Ian menggoda ku agar jangan sampai terlewatkan kesempatan mengenal cowo itu, dengan malu-malu aku mendekatkan diri ke cowo itu, mengajaknya basa-basi dan entah ada keajaiban apa cowo itu mengajakku makan siang bareng. Jrenggg hatiku berasa melayang ketika cowo itu mengajakku makan siang.
Makan siang pertama sukses, aku jadi mengenali cowo itu yang ternyata namanya Fero Sebastian. Fero termasuk orang yang asik di ajak ngobrol walaupun baru pertama kali ketemu, orang yang humoris dan orang yang mampu membuatku merasa nyaman walaupun baru kenal. Hari terus berganti kini aku semakin dekat dengan Fero, kita ber dua sering jalan bareng, makan bareng. Dan tibalah saatnya momen yang aku tunggu-tunggu itu datang. Fero mengajakku Dinners bareng di sebuah cafee nan romantis. Fero memesan meja untuk dua orang, dengan hiasan lilin lilin dan bunga mawar, lampu cafee di seting seromantis mungkin dan seseorang menggesekkan biolanya menambah suasana romantis. “Arin walaupun aku belum lama mengenalmu, entah kenapa ada rasa ingin memilikimu menghinggap di hatiku, senyum indah dari bibirmu terlukis di langit-langit kamarku, wajahmu seperti abadi di ingatanku. Arin malam ini aku ingin memilikimu selamanya, maukah kamu menjadi istriku dan menjadin ibu dari anak-anaku nanti”. Aku menangis mendengarkan isi hati Fero, dia serius dengan ku, dia mengatakan menjadi istriku bukan pacarku. Aku juga menginnginkan Fero menjadi suamiku. “Fero, jujur sejak pertama kali aku melihatmu di kedai kopi, ada rasa bahagia hinggap di hatiku, entah kamu percaya atau tidak, setiap malam aku selalu melamuninmu, berharap besok bisa bertemu denganmu, aku juga mencarimu, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu. Jadi aku mau menikah denganmu”
“Cie-cie yang  baru pacaran, setelah bebera tahun jomblo”, goda Vio dan Ian. “Apaan sih, aku dan Fero tidak pacaran, kami berdua sepakat akan langsung menikah” jawabku dengan senyum manis “Apa? Langsung menikah?” tanya Vio dengan mata terbelalak “Sebegitu cintanya kamu pada Fero sehingga memutuskan langsung menikah” sambung Ian “Iya dong, jangan kayak Vio pacaran terus kapan nikahnya” goda Arin ke Vio.
Seperti biasa sebelum pergi ke kantor Arin menyempatkan diri untuk sarapan bareng keluarga. “Mah, Pah aku sudah punya calon suami, nanti akum au mengenalkannya pada mamah dan papah” Arin malu-malu mengutarakan isi hatinya “Calon suami? Bukannya selama ini kamu belum punya pacar?” tanya mamahnya dengan muka heran “Papah juga belum pernah melihatmu jalan bareng cowo selain Ian teman kantormu” sambung Papah. “Nanti malam akan Arin Kenalkan ke mamah dan papah, namanya Fero, sebenarnya aku dan Fero baru kenal beberapa bulan, tapi kita berdua sudah merasa dekat dan nyaman. Mamah dan Papah seringkan melihat Arin senyum-senyum sendiri nah cowo yang buat Arin Senyum sendiri itu Fero. Udah mah pah Arin berangkat kerja dulu nanti di sambung nanti malam sekalian ngobrol bareng orangnya”.
Ruang tamu jam menunjukkan pukul 19.00. aku, mamah dan papah sudah siap menunggu Fero datang, terdengar klakson mobil dari luar itu pasti mobil Fero. Pintu terketuk, langsung saja aku membuka pintu, sebelumnya aku sudah dandan secantik mungkin. Fero dan keluarganya datang. Fero kelihatan lebih ganteng dengan setelan Jas trendy nan santai. Setelah mereka masuk terjadilah obrolan hangat ke dua keluarga. Malam ini Fero melamarku.
Waktu terus berjalan. 1 bulan setelah proses lamaran kini tiba saatnya momen yang berharga dalam kehidupan ku terjadi, momen dimana aku dan Fero mengikat janji suci kita lewat pernikahan. Hari ini aku akan menikah. “Gak nyangka ya Arin yang jarang pacaran bahkan tidak pernah pacaran saja menikahnya duluan. Nah sedangkan aku yang sering pacaran gak nikah-nikah” Vio bergumam “Hehehe kamu pacaran nya gak serius Vi, kamu masih main-main hanya untuk Fun saja” Jawab Ian. “Bener tuh kata Ian, klo mau cepat menikah pacarannya yang serius dan cari pacar yang bisa berpikir dewasa jangan pacarannya sama brondong alay” Nasihat Arin. “Udah-udah jangan ada yang galau di hari pernikahanku. Semuanya harus bahagia” Arin menutup obrolannya. Dan kini bersiap-siap ke pelaminan karena Fero sudah menunggu.
“Arin sayang sebelum aku mengucap janji suci pernikahan izinkan aku mengucap janji kesetiaanku padamu. Arin kamu harus tau ini, aku mencintaimu seperti tubuhku, seperti mata yang selalu melihat, seperti telinga yang selalu mendengar, jantung yang selalu berdetak, dan hati yang selalu berkata. Aku mencintaimu seperti tubuhku yang selalu setia seperti jiwaku pada cintaku seperti cintaku pada kamu seperti hatiku yang selalu untukmu Arin sayang”. Aku menangis mendengar kalimat tulus dari hati Fero. “Fero sayang aku percaya itu. Aku juga akan setia kepadamu, dan kamu harus tahu Fero sayang. Setiaku padamu seperti air yang akan terus mengalir tidak akan berpaling tidak akan berubah sampai akhir. Fero jujur selama ini aku belum pernah jatuh cinta dan belum pernah pacaran. Kamu adalah laki-laki pertama dalam hidupku dan insyaallah laki-laki terakhir dalam hidupku juga”. “Arin sayang aku juga jujur sebelum kenal kamu aku tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan sama wanita manapun dan kamu wanita pertama yang aku cintai”. Akhirnya aku dan Fero resmi menikah dengan di dasari rasa Cinta dan janji Kesetiaan.
Dan aku pun kini hidup bahagia dengan suamiku tercinta.

Senin, 23 Oktober 2017

KU IZINKAN SUAMIKU MENIKAH LAGI



Kabut hitam semakin tebal minghias atap bumi, angin bertiup semakin kencang menghembuskan kesedihanku yang semakin mendalam. Hatiku hancur berkeping-keping, aku merasa tidak bisa menjadi perempuan sejati, perempuan yang mampu membahagiakan suami. Setelah lima tahun pernikahanku dengan mas Andra aku tidak bisa memberikan mas Andra keturunan, sedih rasanya aku gagal menjadi istri yang di inginkan oleh suami manapun. Walaupun mas Andra menerimaku apa adanya tanpa mengurangi kasih sayangnya padaku tapi aku merasa bersalah. Setiap malam aku selalu bersujud menghadap Sang Kuasa. “Ya Allah jika ini yang terbaik untuk suamiku aku akan merelakan suamiku menikah lagi dengan perempuan lain, karena aku tidak bisa memberikannya keturunan”. Alir mataku begitu deras membanjiri pipiku.
Mungkin suamiku tetap mencintaiku apa adanya walaupun aku tidak bisa memberikannya keturunan akan tetapi ibu mertuaku yang sepertinya mulai tidak menyukaiku. Ibu mertuaku begitu memperlihatkan ketidak sukanya kepadaku bahkan selalu menyindirku tentang keturunan dan poligami. Walaupun suamiku tetap menguatkanku agar tidak mengambil hati omongan ibunya namun tetap saja aku merasa sakit hati.
“Mas, apa mas tidak menyesal menikah denganku” suatu malam aku melontarkan kalimat itu. “Isteriku aku tidak pernah menyesal menikah dengamu, kamu wanita sholeha dan berbakti pada suami” jawab suamiku sambil membelai indah rambutku. “Walaupun aku tidak bisa memberikan keturunan?” tanyaku lebih lanjut. “Isteriku, soal keturunan kita serahkan semuanya pada Allah. Isteriku aku akan mencintaimu apa adanya” aku mulai meneteskan air mata “Maafkan aku mas, aku tidak bisa menjadi isteri yang sempurna, aku tidak bisa memberikan keturunan, tanpa kehadiran anak pernikahan terasa hambar mas” aku terisak mengucapkannya. “Isteriku, anak merupakan titipan Allah, jadi kita hanya bisa berdoa semoga Allah mempercayai kita sehingga kita di berikan keturunan, isteriku ini sudah malam lebih baik kita istirahat saja” suamiku menutup obrolan.
“Rima, kapan kamu akan hamil, usia pernikan mu sudah tidak muda lagi?” tiba-tiba ibu mertuaku berkata itu kepadaku. “Mamah, aku sudah berusaha untuk bisa hamil, tapi hasilnya belum terlihat”. Sakit rasanya ibu mertuaku berkata itu “Suami mu sudah sangat menginginkan hadirnya seorang anak dalam rumah tangga kalian?”. “Iya mah, tapi keturunan datangnya dari Allah, mungkin Allah belum mengizinkan aku untuk mengandung” jawabku dengan suara tersekat.
“Yohan, mamah mau ngomong sebentar?” “Iya Mah, mau bahas apa?, aku lagi cape banget nih mah” “Ini soal Istrimu?” “Ada apa dengan Rima mah?” “Klo Rima belum bisa mengasih mamah cucu, mending kamu cari istri lagi, mamah sudah tua keinginan mamah hanya ingin menggendong cucu, mamah punya kenalan anak teman mamah?. “Mamah ngomong apa? Yohan tidak negerti. Emmm Mamah mau Yohan mempoligami Rima?” “Iya, agama kita membolehkan poligami, mamah pikir kamu akan mampu berpoligami” “Mamah, Yohan sangat sayang pada Rima. Yohan sudah berjanji apapun keadaanya aku dan Rima akan selalu bersama. Piligami hanya akan menyakiti hati Rima dan hatiku juga mah. “Tapi mamah mau punya cucu dan mamah sudah memutuskan kamu harus nikah lagi, kamu harus segera membicarakan hal ini pada Rima, klo tidak biar mamah saja yang akan ngomong”. “Mah, Yohan tidak akan berpoligami. Lagian klo Rima tidak bisa memberikan mamah cucu, kita kan bisa mengadopsi anak dari Rumah sakit atau panti asuhan” “Mamah tidak mau punya cucu yang bukan darah daging anak mamah sendiri” “Sudah mah, Yohan cape, mau istirahat dulu”. Aku secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan itu, sakit hati ini mendengarnya, tapi apa boleh buat yang di omongin mamah ada benarnya juga, aku harus mengiklaskan mas Yohan menikah lagi, demi kebahagian Mamah dan mas Yohan. Jam menunjukan pukul 02.00 aku terbangun dari tidurku dan teringat obrolan mamah dan suamiku, aku tidak tenang dengan semua ini. Sholat ya sholat malam mungkin akan membuatku lebih tenang. Dalam heningnya malam aku bersimpu pada Sang Pencipta “Ya Allah, hanya kepadamu hamba meminta dan memohon, ya Allah hamba tahu hamba tidak bisa memberikan keturunan untuk suami dan mertua hamba, aku ikhlas dengan ini semua ya Allah. Ya Allah, jika poligami akan menyelesaikan sumua masalah ini hamba akan Ikhlas memberikan suami hamba kepada wanita lain walaupun itu sakit. Hamba iklhas dengan semua ini ya Allah”.
Siang yang cerah tapi tidak dengan hatiku tiba-tiba ibu mertuaku bicara “Rima, apa Yohan sudah berbicara dengan mu” “Maaf mah, bicara apa?” aku sudah tahu arah pembicaraan ini semua “Tentang poligami, mamah akan menjodohkan suamimu dengan perempuan lain, mamah harap kamu ikhlas dan mendukung. Kamu tahu kan alasannya apa”. Sakit dan sedih mendengarnya, hatiku hancur berkeping-keping tak terasa air mataku begitu deras membanjiri pipiku. “Mas Yohan belum bicara tentang itu mah, aku ngerti mah, insyaallah jika mas Yohan bicara aku akan siap dan ikhlas mendengarnya”. “Minggu depan mamah akan  mengenalkan wanita yang akan menikah dengan suamimu. Tenang saja kamu jangan kwatir wanita ini wanita baik-baik dan muslimah”. Sebaik apapun wanita itu pasti akan membuat hatiku sakit, perempuan mana yang Iklhas suaminya berbagi ranjang. Tapi aku akan berusaha ikhlas demi Syurga-NYA.
Setelah ibu mertuaku berbicara itu, setiap malam aku tidak bisa tidur nyenyak, aku gelisah memikirkan semuanya, ku pandangi wajah suamiku ketika dia tidur, ada rasa kasihan dengannya, seharusnya dia sudah menjadi sosok ayah bagi anak-anaknya. Suamiku sampai saat ini belum bicara tentang poligami, mungkin dia tidak mau menyakiti hatiku. Apa aku yang harus berbicara duluan, tapi aku takut dia akan marah dengan apa yang aku bicarakan. Ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk bicara duluan.
Satu hari sebelum ibu mertuaku mengenalkan wanita lain dan suamiku belum bicara apapun dan aku yang harus bicara dengan suamiku. Ini waktu yang pas untuk bicara, kubuatkan suamiku secangkir kopi, sambil duduk santai di teras rumah menikmati indahnya senja aku memulai obrolan pahit itu. “Mas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan” “Iya sayang, mau bicara apa?” “Tentang masa depan mu mas, masa depan pernikahan kita” “Ada apa dengan masadepanku sayang? Ada apa dengan pernikahan kita?” “Mas, aku pernah mendengar mamah bicara pada mas tentang keturunan, dan mamah sudah bicara dengan ku tentang solusinya” air mataku mulai terurai mengalir, tenggorokanku terasa berat tercekat “Apa maksudmu sayang, mamah bicara apa padamu?” “Mas, jika ini yang terbaik untuk kita semua saya Ikhlas mas menikah lagi” aku mengeluarkan kalimat itu dengan terbata-bata di iringi dengan sesenggukanku “Apa maksudmu sayang?. Cuma kamu yang aku cintai istriku, apapun yang terjadi aku tidak akan menyakitimu” “Mas, mamah mau menggendong cucu, dan aku tidak bisa memberikan mamah cucu, aku ikhlas mas menikah lagi, aku ikhlas di poligami” “Sayang, stop jangan bahas ini” mas Yohan memelukku dengan erat “Mas, maaf aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna buat mas. Mas tolong setujui permintaanku ini” “Sayang ini bukan permintaanmu, ini permintaan mamah. Sayang wanita mana yang tidak akan sakit hati melihat suaminya menikah lagi” aku terisak-isak mendengar jawaban suamiku “Mas, aku ikhlas, besok wanita yang akan menikah dengan mas akan datang kesini, mamah sudah menyiapkan ini semua, sekali lagi aku minta maaf mas, tidak bisa menjadi wanita sempurna. Mas harus menikah lagi, demi keturunan mas, aku ikhlas mas” aku semakin terisak, suamiku semakin erat memelukku, dia tidak bisa ngomong apapun, kini yang terdengar hanya isak tangis kami berdua.
Hari itu telah datang, hari dimana hatiku berkeping-keping saat melihat Mas Yohan berjabat tangan dengan calon istrinya. Aku bahkan tidak tahan melihat ini semua, namun aku harus tegar dengan ini semua, aku berusaha untuk tidak menangis agar mas Yohan makin yakin dengan keputusan ini. Aku berhasil menahan air mataku tapi aku melihat mas Yohan yang tidak kuat membendung air matanya, mas Yohan menjatuhkan air matanya ketika ia menyetujui pernikahan keduanya, mas Yohan menatapku dengan tatapan tidak berdaya dan aku berusaha tersenyum. Setelah selesai aku langsung meninggalkan ruang tamu. Aku menangis setelah masuk kamar, mas Yohan segera menyusulku, dia memelukku dan jatuh bersimpu di kakiku, mas Yohan meminta maaf padaku, aku tidak tega melihatnya seperti ini, aku membangunkan mas Yohan, mas Yohan kembali memelukku dengan erat dan aku berbisik “Mas, aku Ikhlas, percayalah padaku”.
Dua bulan setelah itu kini tiba saatnya mas Yohan menikah dengan Azizah wanita yang akan menjadi istri ke dua suamiku. Aku menyiapkan setelan Jas untuk mas Yohan, hari ini aku harus tersenyum tidak boleh ada tangis dalam mataku, sebelum ijab kobul mas Yohan meminta maaf kepadaku lagi. Dengan sekali nafas akhirnya resmi aku di poligami.
“Mas, Rima minta sayangi Azizah seperti mas menyayangi aku, Mas harus berlaku adil dan jangan pernah mas sakiti Azizah” “Iya sayang aku janji akan berlaku adil”
Waktu begitu cepat bergerak, kini sudah 1 tahun mas Yohan membagi cintanya, mas Yohan menepati janjinya untuk berlaku adil, kini kita bertiga hidup bahagia. Azizah melahirkan anak pertamanya senang rasanya mendengar tangis bayi di pernikahan ini, walaupun bayi itu bukan lahir dari rahimku tapi aku sangat menyayanginya, kini mas Yohan resmi menjadi sosok ayah dan ibu mertuaku kini menjadi nenek. Seberat apapun cobaan dalam hidup klo kita jalani dengan ikhlas dan menjadikannya sebagai ibadah pasti akan bahagia.

Selasa, 22 Agustus 2017

AISYAH



Kita hidup di dunia ini tidak bisa hidup sendiri, kita selalu membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan kita dalam situasi apapun. Dan orang itu biasanya kita sebut dengan istilah “SAHABAT”. Sahabat adalah orang yang akan selalu ada bersama kita, orang yang akan mendekati kita meskipun dunia berusaha menjauhi kita. Sahabat juga bisa sebagai lilin di tengah kegelapan kehidupan kita atau mercusuar di tengah laut. Aisyah seorang sahabat yang di kirim Tuhan untuk menemani menyusuri lika-liku kehudupanku.
Aisyah seorang yang selalu mengerti aku, tempat aku berkeluh kesah, disini aku egois karena aku tidak seperti Aisyah yang selalu mengertiin aku, aku egois karena aku tidak tahu kalo sahabat sejatiku mengindap penyakit parah, aku egois aku sangat egois. Aisyah selalu memperlihatkan wajah cerianya, Aisyah tidak pernah kelihatan sakit di depanku, Aisyah memang wanita tegar nan luar biasa.
Bulan Ramadhan bulan yang sangat di tunggu kedatangannya oleh pemeluk agama Islam, aku dan Aisyah pun bersemangat menyambutnya, Ramadhan harus aku jadikan momentum untuk menjadikanku wanita yang lebih baik lagi. Aisyah selalu mengajariku tentang agama, Aisyah orang yang sabar, bulan Ramadhan ini aku mempunyai niat untuk bisa lancar membaca firman-firman Allah.
“Cinta, malam ini kita tarawih bareng selesai tarawih kita tadarus bersama”. Ajak Aisyah. “Ok Syah, nanti habis buka puasa aku kerumahmu”. Setelah aku dan Aisyah melaksanakan ibadah bulan Ramadhan aku berpamitan ke Aisyah untuk pulang duluan karena Aisyah masih ada acara lagi.
Langit begitu cerah secarah bulan nan penuh berkah, hari ini aku hari ini berangkat ke kampus karena ada jadwal bimbingan skripsi, Aisyah selalu menemani ku menyelesaikan skripsi walaupun Aisyah sudah selesai skripsi dan sidang Aisyah berjanji padaku untuk wisuda bareng. Aku semangat menyelesaikan skripsi aku tidak mau melihat Aisyah terlalu lama menunggu ku.
Sebelum aku dekat dengan Aisyah aku tidak bisa memahami arti kehidupan, hidupku kelam hampir setiap malam aku menghabiskan waktu di clubbing mabuk mabukan, nongkrong dengan teman temanku dulu, aku hampir terlalu dalam terjerumus ke jurang kesesatan. Kilas balik kehidupanku dulu.
Telpon genggamku berdering menandakan ada panggilan masuk, Danu teman cowoku meneleponku seperti biasa Danu mengajaku keluar dengan teman-temannya Danu sendiri anak Genk motor yang sering balapan liar, senang senang ke clubbing, bahkan aku hampir menyentuh barang haram narkoba.
“Cinta, kamu sayang gak sama aku?”. Danu bertanya saat sedang mabuk aku dan Danu keluar clubbing dalam keadaan mabuh, “Iya sayang, aku sangat sayang banget sama kamu”, “Buktinya apa sayang?” “Buktinya aku akan memberikan apapun yang kamu mau sayang” “Benarkah itu sayang?” “Iya sayang” “Cinta malam ini kita nginap di hotel ya” “Kenapa harus nginap di hotel sayang” “Aku masih ingin bersamamu sayang” “Ok, sayang aku akan ikut kamu”. Mobil Danu melaju dengan cepat menuju hotel, Danu memesan kamar, di kamar hotel ini awal petaka bagiku, kamar hotel yang menjadi saksi bisu kegilaanku dengan Danu. Entah setan apa yang merasuki Danu, Danu membuka kemejanya, kemudian dia menciumiku dan berbisik kepadaku “Sayang aku ingin memiliki mu” dengan nafas yang memburu Danu terus mencumbuku, aku juga seperti ada setan jahat yang merasukiku aku tidak bisa melawan perbuatan Danu yang di lakukan padaku aku malah menikmati perlakuan bejat Danu.
Tunggu-tunggu ko aku cerita tentang diriku sendiri ya hehehe, padahal yang ingin aku ceritakan tentang Aisyah sahabatku. Ok gak pp tahu sedikit tentang diriku, yuk lanjut dengerin aku cerita tentang Aisyah sahabatku, maaf tadi di atas ceritanya sampai mana ya???.... Maklum lupa faktor usia kali ya hehehe.
“Aisyah, kamu gak lagi sakit kan?” tanyaku dengan suara yang halus
“Gak Cinta, aku Cuma ke capean aja, tadi malam aku tidur ketika sudah larut”.
Aisyah kelihatan pucat banget hari ini, sampai aku tidak tega melihatnya. “Aisyah, klo kamu sakit mending kamu jangan puasa aja, kamu bisa menggantinya nanti”
“Enggak sakit ko Cinta, aku hanya kecapean aja aku kurang istirahat aja”
“Iya Aisyah terserah kamua aja”. Ramadhan memasuki minggu terakhir, Aisyah sejak satu minggu yang lalu dia tidak terlihat, aku jadi kwatir dengan keadaanya, aku mencoba menghubunginya tapi nomornya tidak aktif, aku juga mencoba bertanya kepada mamahnya tapi dia selalu menghindar menjawab tentang Aisyah, aku merasa ada yang janggal dengan Aisyah, aku merasa Aisyah menyembunyikan sesuatu dariku.
Rembulan mala mini bersinar begitu indah memamerkan keelokannya, selepas sholat tarawih aku berencana mendatangi rumah Aisyah, setiba di rumah Aisyah, hanya ada adiknya aja, ketika aku bertanya tentang Aisyah adik Aisyah hanya menangis, aku jadi makin penasaran sebenarnya ada apa ini, apa yang Aisyah sembunyikan dariku, ke dua arang tua Aisyah juga tidak ada di rumah, adik Aisyah hanya bilang mereka bertiga sedang keluar kota, tapi kenapa Aisyah tidak memberitahuku, kenapa Aisyah tidak bisa di hubungi, Aisyah seolah ingin menghindariku, kenapa? Apa salah ku?.
“Mamah, papah, maafin Aisyah jika selama ini Aisyah punya salah sama mamah dan papah” suara Aisyah lirih.
“Tidak Aisyah, salama ini kamu telah menjadi anak yang soleha dan berbakti ke pada orang tua” jawab mamah Aisyah dengan berlinangan air mata dan suara tercekat.
“Iya nak benar apa yang mamah kamu katakana, kamu tidak pernah salah sama orang tua”
“Mamah, papah, Aisyah merasa sudah tidak lama lagi Aisyah bisa bersama mamah, papah dan adek, Aisyah merasa Allah akan membawa Aisyah ke tempat yang begitu indah”
“Nak, kamu ngomong apa?. Sayang jangan ngomong kayak gitu kamu pasti sembuh, dokter akan terus berjuang untuk kesembuhan mu” air mata mamah Aisyah semakin deras membanjiri pipinya.
“Mah, Pah, bulan Ramadhan akan segera berakhir di tahun ini, Begitu pun dengan Aisyah, Aisyah sudah menyerahkan semua hidup Aisyah ke Allah, Aisyah AIkhlas dengan semua ujian yang Allah berikan ke Aisyah. Mamah dan papah jangan sedih ya’’. Suara Aisyah terdengar begitu berat dan tercekat. Mamah dan papah Aisyah tidak bisa ngomong apa-apa hanya bisa menangis dan menciumi tangan anaknya yang sedang berbaring lemah di ranjang Rumah Sakit.
Sehari sebelum hari yang fitri datang, Aisyah meninggalkan kita semua, aku mendapat kabar itu dari Nando adik Aisyah.
“Aisyah, kenapa kamu begitu cepat meninggalkanku, aku masih membutuhkanmu Aisyah, aku masih ingin belajar tentang agama, tentang hidup dan tentang ke iklasan menerima ujian dan cobaan dari Allah”. Aku hanya bisa menangis di depan tubuh kaku sahabatku, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku merasa kehilangan yang begitu dalam.
Aku menyesal karena aku tidak pernah tahu penyakit yang di derita sahabatku sendiri, aku hanya bisa merepotkannya, Aisyah begitu hebat menyembunyikan kesakitannya di balik senyum dan cerianya.
Aisyah terimakasih sudah menjadi sahabat ku selama dua tahun terakhir, kamu telah merubah hidupku Aisyah, kamu berhasil membuatku Hijrah dan mengenali dengan baik agamaku, Aisyah kamu akan selalu hidup di hatiku. Aku akan selalu mengenangmu Aisyah. Maafkan aku Aisyah yang sering merepotkan kamu.
Aisyah lihatlah dari sana Aku sekarang sudah memutuskan berhijab, itu semua karena Allah yang telah mengenalkanku kepadamu.