Senin, 20 November 2017

CINTA PERTAMA DAN TERAKHIR



Langit nan indah dengan taburan bintang yang menyala berkelip-kelip di tambah dengan rembulan yang bersinar agung di tengah kerumunan bintang, aku begitu menyukai malam seperti ini, tidak ada bosan-bosannya memandangi rembulan yg begitu indah membuat hati tenang dan mampu menyingkirkan sejenak beban kehidupan.
Di usiaku yang menginjak dua puluh lima tahun aku masih belum memiliki pendamping hidup, aku terlalu asik dengan kehidupan karirku, walaupun aku tahu banyak laki-laki yang menginginkan aku menjadi pacarnya namun entah kenapa belum ada laki-laki yang menarik di mata dan hatiku. Di suatu malam aku tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuaku yang membahas jodoh untuk ku, aku kira orang tuaku akan segera mencarikan aku pendamping hidup.
“Nak, usiamu sudah menginjak 25 tahun, tapi kenapa mamah belum pernah melihat kamu pacaran?” entah ada angin dari mana mamahku melontarkan pertanyaan itu. “Mah, aku belum mau menikah cepat-cepat, aku masih ingin berkarir dulu mah”, jawabku dengan halus, “Nak, karirmu sudah cemerlang kini sudah saatnya kamu menentukan siapa yang pantas mendampingimu”, “Entahlah mah belum ada seorang laki-laki yang mampu menggerakan hatiku”, “Papahmu punya kenalan, anak seorang rekan bisnisnya, dia lulusan luar negeri dan karirnya sudah mapan, cocok menjadi pasangan hidupmu”, “Mamahku sayang, ini bukan zaman siti nurbaya, nanti kalo sudah ada yang klik di hati, aku janji akan segera mengenalkannya pada mamah dan papah”. Mamah menutup obrolannya denganku.
Waktu menunjukan pukul 11.30 jam istirahat kantor telah tiba seperti biasa aku dan ke dua sahabat kantorku ngopi santai di sebuah cafee  dekat kantor, cafee dengan nuansa jawa dan sedikit modern menjadi cafee favorit kami ber tiga. Sambil menunggu pesanan datang tiba-tiba Vio membuka obrolan tentang cowo, “Arin, tahu gak aku sedang dekat dengan cowo super keren dari kantor sebelah” celetuk Vio “Vio, kamu cepat banget move on dari cowo, barusan 1 minggu yang lalu kamu putus dari Dion, masa sekarang kamu sudah mau pacaran lagi” tutur ku yang ogah banget bahas cowo. “Biasa lah Rin, si Vio kan sebelum putus sudah punya draf cowo-cowo yang bakal di deketin” sambung Ian “Yehh, apaan sih Ian, aku itu sebagai wanita harus bisa cepat-cepat move on dari yang namanya mantan” balas Vio dan akhirnya Vio dan Ian berdebat argument tentang Move On, aku hanya bisa mendengarkan sambil sesekali tersenyum.
Hari minggu merupakan hari yang sangat aku tunggu-tunggu hari dimana aku bisa melepas sejenak kesibukan kantor, minggu ini kami ber tiga aku, Vio dan Ian berencana nonton bareng kebutulan ada film hero wonder women yang lagi ngehitz tayang, setelah nonton biasanya kami nongki-nongki sambil menikmati kopi panas. Di sebuah kedai cantik nan romantis mataku menatap sesosok laki-laki bertubuh tinggi, badan yang kekar serta wajah yang tampan duduk sendirian di sebuah kursi di sudut kedai sambil sesekali menyeruput kopinya. Aku sampai tidak sadar melihat senyumnya yang manis sehingga aku ketawa sendiri dan akhirnya Vio dan Ian membuyarkan lamunan ku. “Hy, lagi melihat apaan sih pakai senyum-senyum sendiri” tanya Ian dengan ekspresi menggoda, “Pasti sedang jatuh cinta nih” sambung Vio, “Vio apaan sih, aku gak ngerti maksudmu” “Wah kelamaan jomblo nih jadi gak ngerti jatuh cinta” jawab Vio, “Benar tuh Vio kelamaan jomblo, bentar-bentar, sejak aku dan Vio berteman sama kamu, kita jarang banget melihat kamu pergi sama cowo atau melihat kamu pacaran” sambung Ian. Entah kenapa tiba-tiba aku merasakan pipiku merah padam. “Ian, aku tahu nih Arin sedang lihatin siapa” celetuk Vio sambil kedip manjah ke arah cowo yang sedang aku lihatin “Ohh jadi dari tadi Arin lihatin cowo di sudut sana, emmm lumayan cakep lah Vi” jawab Ian “Iya yan lumayan cakep, pantes aja dari tadi Arin lihatin terus, apa jangan-jangan Arin jatuh cinta pada pandangan pertama” Goda Vio kepadaku, jujur aku nambah malu nih, “Gak pp Vi, lagian Arin kan jarang pacaran otomatis jarang merasakan jatuh cinta” “Bener banget Ian, duhh aku sebagai sahabat bangga nih melihat sahabatku jatuh cinta, udah jangan di lihatin terus mending kamu samperin saja” Vio mendorongku suruh menyemperin cowok itu “apaan sih Vi, malu tau cewek nyamperin duluan cowo” “halah udah biasa kali Rin”sambung Ian.
Rembulan kembali bersinar memperlihatkan kegagahannya. Arin menatap rembulan dengan senyum-senyum sendiri. “Tuhan, apakah ini yang namanya jatuh cinta?” tanpa di sadari Arin bergumam sendirian. “Kalo ini yang namanya jatuh cinta, lantas apa ini juga yang namanya cinta pada pandangan pertama”. Tanpa di sadari jam telah menunjukan pukul 22.00, Arin masih terjaga. Jatuh cinta memang membuat orang lupa dengan segalanya, membuat orang seperti gila, senyum sendiri, bergumam sendiri.
“Selamat pagi mah” ucapan wajib Arin ke mamahnya ketika berada di ruang makan. “Pagi juga sayang, sebelum ke kantor sarapan dulu, mamah sudah siapkan nasi goreng kesukaan kamu” “Siap mamah sayang” “Anak mamah kayaknya lagi bahagia banget nih, dari tadi senyum-senyum sendiri” Arin ketahuan senyum-senyum sendiri. “Wahh apa jangan-jangan anak Papah lagi jatuh cinta nih, senyumnya mirip sama Papah dulu waktu jatuh cinta sama Mamah” goda Papah Arin. “Yehh, gak papah Arin gak lagi jatuh cinta” bantah Arin “ “Jatuh cinta juga gak papa kan anak mamah sudah besar dan mapan, cepat kenalin cowo yang membuat anak mamah jatuh cinta, kalo tidak cepat di kenalin nanti mamah akan jodohkan sama anak kenalan papah” paparan Mamah Arin semakin membuat Arin merasa tertindas. “Benar tuh kata mamah cepat kamu kenalin ke mamah dan papah siapa cowo yang berhasil mencuri hatimu”. Gubrak mengenalin cowo itu ke Mamah dan Papah, bagaimana caranya? Jangan kan mengenalin ke mamah papah, kenal dan tau namanya aja belum.
Beberapa minggu kemudian setelah aku lelah mencari dan membayangkan cowo itu.
Hari ini aku ada meeting bareng klien, meeting yang tidak akan aku lupakan sepanjang hidup, meeting yang berkesan. Di ruang meeting sudah kumpul beberapa orang tinggal menunggu Aku saja yang kebetulan telat datang, ketika aku memasuki ruang meeting mata ku menatap sesosok cowo yang berhasil membuatku senyum sendirian, sosok cowo yang diam-diam mencuri sepotong hatiku. Meeting pun selesai. Vio dan Ian menggoda ku agar jangan sampai terlewatkan kesempatan mengenal cowo itu, dengan malu-malu aku mendekatkan diri ke cowo itu, mengajaknya basa-basi dan entah ada keajaiban apa cowo itu mengajakku makan siang bareng. Jrenggg hatiku berasa melayang ketika cowo itu mengajakku makan siang.
Makan siang pertama sukses, aku jadi mengenali cowo itu yang ternyata namanya Fero Sebastian. Fero termasuk orang yang asik di ajak ngobrol walaupun baru pertama kali ketemu, orang yang humoris dan orang yang mampu membuatku merasa nyaman walaupun baru kenal. Hari terus berganti kini aku semakin dekat dengan Fero, kita ber dua sering jalan bareng, makan bareng. Dan tibalah saatnya momen yang aku tunggu-tunggu itu datang. Fero mengajakku Dinners bareng di sebuah cafee nan romantis. Fero memesan meja untuk dua orang, dengan hiasan lilin lilin dan bunga mawar, lampu cafee di seting seromantis mungkin dan seseorang menggesekkan biolanya menambah suasana romantis. “Arin walaupun aku belum lama mengenalmu, entah kenapa ada rasa ingin memilikimu menghinggap di hatiku, senyum indah dari bibirmu terlukis di langit-langit kamarku, wajahmu seperti abadi di ingatanku. Arin malam ini aku ingin memilikimu selamanya, maukah kamu menjadi istriku dan menjadin ibu dari anak-anaku nanti”. Aku menangis mendengarkan isi hati Fero, dia serius dengan ku, dia mengatakan menjadi istriku bukan pacarku. Aku juga menginnginkan Fero menjadi suamiku. “Fero, jujur sejak pertama kali aku melihatmu di kedai kopi, ada rasa bahagia hinggap di hatiku, entah kamu percaya atau tidak, setiap malam aku selalu melamuninmu, berharap besok bisa bertemu denganmu, aku juga mencarimu, dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu. Jadi aku mau menikah denganmu”
“Cie-cie yang  baru pacaran, setelah bebera tahun jomblo”, goda Vio dan Ian. “Apaan sih, aku dan Fero tidak pacaran, kami berdua sepakat akan langsung menikah” jawabku dengan senyum manis “Apa? Langsung menikah?” tanya Vio dengan mata terbelalak “Sebegitu cintanya kamu pada Fero sehingga memutuskan langsung menikah” sambung Ian “Iya dong, jangan kayak Vio pacaran terus kapan nikahnya” goda Arin ke Vio.
Seperti biasa sebelum pergi ke kantor Arin menyempatkan diri untuk sarapan bareng keluarga. “Mah, Pah aku sudah punya calon suami, nanti akum au mengenalkannya pada mamah dan papah” Arin malu-malu mengutarakan isi hatinya “Calon suami? Bukannya selama ini kamu belum punya pacar?” tanya mamahnya dengan muka heran “Papah juga belum pernah melihatmu jalan bareng cowo selain Ian teman kantormu” sambung Papah. “Nanti malam akan Arin Kenalkan ke mamah dan papah, namanya Fero, sebenarnya aku dan Fero baru kenal beberapa bulan, tapi kita berdua sudah merasa dekat dan nyaman. Mamah dan Papah seringkan melihat Arin senyum-senyum sendiri nah cowo yang buat Arin Senyum sendiri itu Fero. Udah mah pah Arin berangkat kerja dulu nanti di sambung nanti malam sekalian ngobrol bareng orangnya”.
Ruang tamu jam menunjukkan pukul 19.00. aku, mamah dan papah sudah siap menunggu Fero datang, terdengar klakson mobil dari luar itu pasti mobil Fero. Pintu terketuk, langsung saja aku membuka pintu, sebelumnya aku sudah dandan secantik mungkin. Fero dan keluarganya datang. Fero kelihatan lebih ganteng dengan setelan Jas trendy nan santai. Setelah mereka masuk terjadilah obrolan hangat ke dua keluarga. Malam ini Fero melamarku.
Waktu terus berjalan. 1 bulan setelah proses lamaran kini tiba saatnya momen yang berharga dalam kehidupan ku terjadi, momen dimana aku dan Fero mengikat janji suci kita lewat pernikahan. Hari ini aku akan menikah. “Gak nyangka ya Arin yang jarang pacaran bahkan tidak pernah pacaran saja menikahnya duluan. Nah sedangkan aku yang sering pacaran gak nikah-nikah” Vio bergumam “Hehehe kamu pacaran nya gak serius Vi, kamu masih main-main hanya untuk Fun saja” Jawab Ian. “Bener tuh kata Ian, klo mau cepat menikah pacarannya yang serius dan cari pacar yang bisa berpikir dewasa jangan pacarannya sama brondong alay” Nasihat Arin. “Udah-udah jangan ada yang galau di hari pernikahanku. Semuanya harus bahagia” Arin menutup obrolannya. Dan kini bersiap-siap ke pelaminan karena Fero sudah menunggu.
“Arin sayang sebelum aku mengucap janji suci pernikahan izinkan aku mengucap janji kesetiaanku padamu. Arin kamu harus tau ini, aku mencintaimu seperti tubuhku, seperti mata yang selalu melihat, seperti telinga yang selalu mendengar, jantung yang selalu berdetak, dan hati yang selalu berkata. Aku mencintaimu seperti tubuhku yang selalu setia seperti jiwaku pada cintaku seperti cintaku pada kamu seperti hatiku yang selalu untukmu Arin sayang”. Aku menangis mendengar kalimat tulus dari hati Fero. “Fero sayang aku percaya itu. Aku juga akan setia kepadamu, dan kamu harus tahu Fero sayang. Setiaku padamu seperti air yang akan terus mengalir tidak akan berpaling tidak akan berubah sampai akhir. Fero jujur selama ini aku belum pernah jatuh cinta dan belum pernah pacaran. Kamu adalah laki-laki pertama dalam hidupku dan insyaallah laki-laki terakhir dalam hidupku juga”. “Arin sayang aku juga jujur sebelum kenal kamu aku tidak pernah pacaran atau menjalin hubungan sama wanita manapun dan kamu wanita pertama yang aku cintai”. Akhirnya aku dan Fero resmi menikah dengan di dasari rasa Cinta dan janji Kesetiaan.
Dan aku pun kini hidup bahagia dengan suamiku tercinta.

2 komentar:

  1. Untuk sebuah nama, andai kau tahu bahwa aku menanam harapan saat itu namun sekarang hati sudah ada yang memiliki, terimakasih untuk segalanya. Best Friend

    BalasHapus
  2. Thanks David sudah baca dan Komen. tunggu cerpen selanjutnya ya

    BalasHapus